Komisi A DPRD Bontang Tinjau Pelayanan RS Amalia, Bahas Layanan Unggulan
BONTANG – Komisi A DPRD Kota Bontang bersama Dinas Kesehatan Kota Bontang melakukan kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Amalia Bontang (RSAB), Selasa (19/5/2026) lalu.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung pelayanan pasien, hingga fasilitas rumah sakit.
Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Heri Keswanto mengatakan pihaknya ingin memastikan informasi terkait pelayanan rumah sakit dapat diketahui masyarakat secara luas.
Menurutnya, DPRD ingin mengetahui kelebihan maupun kekurangan layanan yang dimiliki RS Amalia, termasuk jenis penyakit yang dapat ditangani serta layanan unggulan rumah sakit tersebut.
“Kami ingin informasi mengenai pelayanan di rumah sakit bisa sampai ke masyarakat. Jadi masyarakat tahu rumah sakit ini unggul di layanan apa, UGD melayani apa saja, sehingga masyarakat punya pemahaman sebelum berobat,” ujarnya saat diskusi.
Selain itu, Komisi A juga menyoroti mekanisme pelayanan pasien BPJS di RS Amalia, termasuk kemungkinan adanya tingkatan tertentu dalam proses pelayanan. Sementara itu, dokter RS Amalia, Yuyun menjelaskan RS Amalia memiliki empat layanan dasar utama yakni penyakit dalam, bedah, obstetri dan ginekologi (obgyn), serta anak.
Selain layanan dasar tersebut, rumah sakit juga memiliki layanan tambahan seperti spesialis mata dan paru. Secara keseluruhan, RS Amalia saat ini didukung sembilan dokter spesialis termasuk anestesi. “Top brand pelayanan kami yang paling tinggi itu obgyn, kemudian anak, mata, dan bedah. Di antara rumah sakit lain, kami cukup unggul di pelayanan obgyn,” jelasnya.
Meski demikian, RS Amalia belum dapat menangani bayi dengan kondisi tertentu yang membutuhkan ruang perawatan intensif neonatal atau MICU.
Pasien dengan kebutuhan tersebut akan langsung dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap. “Kalau ada indikasi yang membutuhkan layanan khusus bayi, pasti langsung kami rujuk karena kami belum memiliki layanan MICU,” katanya.
Untuk pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD), RS Amalia melayani pasien selama 24 jam. Dokter akan menentukan apakah pasien masih dapat ditangani di rumah sakit tersebut atau harus dirujuk. Menurut Yuyun, angka rujukan pasien dari RS Amalia tergolong kecil. Dalam sebulan, rata-rata hanya sekitar delapan pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain.
“Artinya sebagian besar pasien bisa tuntas ditangani di tempat kami dan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit dengan tingkat lebih tinggi,” tambahnya. Ia juga menjelaskan perbedaan utama RS Amalia dengan rumah sakit lain di Bontang terletak pada kelengkapan alat seperti CT Scan dan MRI.
(sn/sr)



