Brong Api Basap, Jejak Tradisi Kutim yang Menjaga Api Erau
SANGATTA — Di balik kemeriahan Erau Adat Kutai, terdapat tradisi yang menghubungkan Kesultanan Kutai dengan masyarakat adat di pedalaman Kutai Timur. Suku Darat Basap dipercaya menjaga Brong Api, api ritual yang menjadi bagian penting dalam rangkaian pembukaan pesta adat tersebut.
Bagi masyarakat Basap, Brong Api bukan sekadar obor untuk prosesi adat. Tradisi ini dipandang sebagai simbol hubungan sejarah dan penghormatan kepada Kesultanan Kutai yang diwariskan secara turun-temurun.
Peneliti Ahli Pertama BRIDA Kutim, Bagus Rai Wibowo, mengutip keterangan tokoh masyarakat Basap yang menyebut tugas menjaga Brong Api sebagai amanah leluhur. Api tersebut dijaga selama rangkaian ritual sebagai bagian dari pesan keselamatan, keberkahan, dan persatuan masyarakat adat.

Tradisi itu sekaligus memperlihatkan pengetahuan masyarakat Basap dalam memanfaatkan bahan-bahan alam serta menjalankan tata cara adat yang diwariskan antargenerasi.
Namun, keberadaan masyarakat adat Basap kini menghadapi tantangan seiring perubahan ruang hidup di wilayah pedalaman. Karena itu, pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat dinilai penting, tidak hanya untuk menjaga hak masyarakat atas wilayah adat, tetapi juga mempertahankan warisan budaya seperti Brong Api, kerajinan kulit kayu Jomok, dan pengetahuan pengobatan tradisional.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi Brong Api menjadi salah satu penanda keberadaan dan identitas budaya masyarakat Basap. Pelestarian tradisi tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat adat, pemerintah, serta generasi muda agar pengetahuan leluhur tetap diwariskan dan tidak terputus.
Bagi Kutai Timur, keberadaan Brong Api menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya tersimpan dalam benda atau bangunan bersejarah, tetapi juga hidup melalui tradisi dan masyarakat yang terus menjaganya.
(sr/ya)



