Bunda Literasi Kutim Dorong Keluarga Jadikan Membaca sebagai Kebiasaan Anak
SANGATTA – Membangun budaya baca di kalangan anak tidak cukup hanya dengan menghadirkan buku. Kebiasaan tersebut perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, dengan membiasakan anak berinteraksi dan membaca bersama sejak usia dini.
Pesan itu disampaikan Bunda Literasi Kutai Timur (Kutim) Siti Robiah saat menghadiri Gebyar Literasi Kutim 2026. Ia mengajak para orang tua memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk mengenalkan anak pada berbagai jenis bacaan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu.
Menurut Siti Robiah, Gebyar Literasi Kutim 2026 yang berlangsung selama 10 hari menyediakan beragam buku, mulai dari bacaan pengetahuan hingga cerita bergambar. Kehadiran berbagai pilihan tersebut diharapkan dapat membuat anak menemukan bacaan sesuai minatnya.

“Beragam buku ada di sini, mau ilmu pengetahuan, cerita bergambar hingga buku-buku yang memiliki informasi yang sangat bermanfaat tersedia, silakan manfaatkan momen ini,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), serta Yayasan YPPSB. Selain menghadirkan bahan bacaan, Gebyar Literasi menjadi ruang perjumpaan masyarakat dengan berbagai pengetahuan dan aktivitas edukatif.
Siti Robiah menilai perubahan teknologi juga perlu disikapi secara terbuka dalam membangun budaya membaca. Akses terhadap pengetahuan kini tidak hanya melalui buku cetak, tetapi juga perangkat digital seperti telepon seluler, tablet, dan komputer.
Menurutnya, perkembangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses bacaan, selama masyarakat tetap memiliki kebiasaan membaca dan kemampuan memahami informasi.
“Orang tua bisa bawa anaknya ke sini, kenalkan mereka dengan buku, karena akan banyak pelajaran yang bisa mereka ajarkan, baik melalui buku cerita maupun buku-buku pengetahuan yang dapat menambah wawasan dan merangsang rasa ingin tahu anak,” katanya.
Ia menegaskan, upaya menumbuhkan minat baca tidak dapat dibebankan kepada sekolah. Keluarga memiliki peran penting karena rumah menjadi lingkungan pertama bagi anak dalam membentuk kebiasaan.
Membaca bersama, mengenalkan buku, atau membacakan cerita dapat menjadi aktivitas sederhana yang dilakukan orang tua. Kebiasaan tersebut kemudian dapat diperkuat melalui lingkungan sekolah dan masyarakat.
“Festival ini hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut dengan menyajikan agenda yang edukatif sekaligus menghibur bagi para pengunjung,” tuturnya.
Siti Robiah juga mengingatkan bahwa membangun minat baca membutuhkan proses. Anak perlu mendapatkan pendekatan yang menyenangkan agar membaca tidak dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai aktivitas yang membuka ruang untuk mengenal hal-hal baru.
Melalui Gebyar Literasi Kutim 2026, ia berharap semakin banyak keluarga memanfaatkan kesempatan untuk mendekatkan anak dengan buku. Menurutnya, kebiasaan sederhana yang dibangun sejak dini dapat menjadi bekal bagi anak untuk terus belajar dan memperluas wawasan. “Buku adalah jendela dunia. Karena itu, mari kenalkan anak-anak dengan kebiasaan membaca sejak dini,” pesannya.
(sr/ya)



