Jangan Berhenti Jadi Gelar, Duta Pelajar Kutim Dituntut Jadi Penggerak
SANGATTA — Gelar Duta Pelajar Kutai Timur 2026 dituntut tak berhenti sebagai simbol atau seremoni. Para pelajar terpilih diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus penggerak dalam menghadapi berbagai persoalan generasi muda.
Pesan itu disampaikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman saat menghadiri Grand Final Pemilihan Duta Pelajar Kutim 2026 di Ruang Meranti, Sekretariat Kabupaten, Sabtu (26/9/2026) malam lalu.
Ardiansyah mendorong generasi muda membangun kepercayaan diri dan karakter kuat serta berani mengambil peran dalam pembangunan daerah. Ia juga mengingatkan pelajar agar bijak memanfaatkan teknologi dan mampu menyaring informasi di tengah derasnya pengaruh dunia digital.

“Kami berharap Duta Pelajar Kutim 2026 tidak hanya menjadi simbol atau gelar, tetapi mampu menjadi contoh dan menyampaikan pesan-pesan positif kepada lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dispora Kutim Basuki Isnawan mengatakan, ajang tersebut diikuti 120 peserta sebelum mengerucut menjadi 20 finalis, terdiri dari 10 pelajar laki-laki dan 10 perempuan.
Para finalis diharapkan menjadi penggerak di sekolah untuk mengajak teman sebaya menjauhi narkoba, judi online, balap liar dan aktivitas negatif lainnya.
Sementara itu, Ketua Kutai Action Center (KAC) Aimam Tohari Situmorang menyebut peserta berasal dari sekolah di 10 kecamatan. KAC sendiri menjalankan sejumlah program pembinaan pemuda, di antaranya Duta Pelajar, Forum OSIS Kutim dan beasiswa mahasiswa.
Menurutnya, pembinaan tersebut diarahkan untuk melahirkan generasi muda Kutim yang berkarakter, berprestasi dan mampu menjadi agen perubahan. Dengan demikian, tantangan para Duta Pelajar Kutim 2026 bukan sekadar memenangkan kompetisi, tetapi membuktikan bahwa gelar tersebut membawa dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.
(sr/ya)



