Wali Kota Neni Ajak Pelajar Bontang Produksi Film Berbasis Budaya dan Cerita Rakyat
BONTANG – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengajak sineas muda di Kota Taman untuk lebih banyak mengeksplorasi budaya dan keunikan daerah dalam karya film mereka. Menurutnya, kekayaan cerita rakyat, kuliner, hingga tradisi lokal dapat menjadi identitas yang mampu menarik perhatian publik, bahkan hingga tingkat internasional.
Pesan tersebut disampaikan Neni saat membuka Workshop Pembuatan Film untuk Pelajar di Gedung Mini Teater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang, Senin (18/5/2026). Dia menilai, film merupakan media yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan budaya suatu daerah kepada masyarakat yang lebih luas. “Angkat keunikan yang ada di sini, perkenalkan lewat film,” katanya.
Neni mencontohkan fenomena Korean Wave atau K-Wave yang berhasil membuat budaya Korea Selatan dikenal di berbagai negara melalui industri hiburan. Menurutnya, kehadiran drama Korea telah memperkenalkan beragam aspek budaya Negeri Ginseng, mulai dari makanan, bahasa, hingga gaya hidup masyarakatnya. “Siapa sangka, kan, dari film orang jadi tahu makanan Korea. Sekarang apa? Di mana-mana makanan Korea pasti ada,” sebutnya.
Dia meyakini Indonesia memiliki potensi yang sama karena setiap daerah mempunyai kekayaan budaya dan cerita yang berbeda. Bahkan, cerita rakyat maupun urban folklore yang berkembang di masyarakat bisa menjadi sumber inspirasi yang menarik untuk diangkat ke layar. “Indonesia ini kaya sekali. Tiap daerah punya cerita rakyat, urban folklore, sampai hantunya sendiri-sendiri. Itu yang bikin menarik kalau diangkat tanpa plagiat atau duplikasi,” ujarnya.
Menurut Neni, film horor Indonesia memiliki karakter yang khas dibandingkan negara lain. Di Kalimantan, misalnya, terdapat kisah kuyang yang telah lama dikenal masyarakat, sementara daerah lain memiliki cerita seperti tuyul, sundel bolong, maupun wewe gombel. Keragaman tersebut dinilai menjadi kekuatan tersendiri bagi industri perfilman nasional. “Kalau kita bikin film dengan mengangkat potensi daerah sendiri, itu lebih menarik. Jangan hilangkan identitas diri,” katanya.
Selain mendorong kreativitas sineas muda, Neni memastikan pemerintah daerah akan terus mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan pendidikan di Bontang. Dia berharap kegiatan workshop tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kemampuan sekaligus melahirkan karya yang dapat memperkenalkan budaya lokal ke tingkat yang lebih luas. “Kita punya kesempatan lewat film pendek untuk memperkenalkan segala budaya dan potensi masyarakat kita supaya dikenal di mancanegara,” tandasnya.
(hl/sr)



