BONTANG – Pihak kontraktor pelaksana pekerjaan gedung bagian dari Rumah Kreasi Milenial (RKM) membantah tudingan jika bangunan proyek tersebut dijadikan gudang sekaligus tempat tidur pekerja. Ditegaskan seluruh aktivitas di lokasi masih dalam koridor pelaksanaan proyek dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menanggapi pemberitaan yang beredar, Staf Project Manager PT Gariyan Alfath Saguna, Herman, menyayangkan informasi yang dinilai tidak berimbang lantaran tidak didahului konfirmasi kepada pihak pelaksana proyek. Menurutnya, pekerjaan yang dimulai sejak 20 Mei 2026 itu saat ini masih berfokus pada pengecoran, serta persiapan pemasangan granit dan perbaikan bagian dalam gedung.
“Kalau melihat progres pekerjaan di lapangan, saat ini kami masih melakukan tahapan pengecoran dan beberapa pekerjaan lainnya. Setelah itu akan dilanjutkan dengan pemasangan granit serta pengerjaan bagian dalam gedung,” ujar Herman kepada awak media, Jumat (19/06).

Ia menjelaskan, progres pekerjaan saat ini telah mencapai sekitar 5 persen. Saat ini pekerja terdapat sekitar 40 orang, 70 persen diantaranya pekerja lokal. Untuk mengejar target penyelesaian pada Desember 2026, pihaknya juga berencana menambah jumlah tenaga kerja.
Herman menegaskan pelaksanaan proyek berjalan sesuai perencanaan dan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Karena itu, ia membantah anggapan bangunan RKM digunakan sebagai gudang maupun tempat tidur pekerja.
Menurutnya, keberadaan pekerja yang beristirahat di area proyek merupakan hal yang lazim dalam pekerjaan konstruksi. Bahkan, tenaga kerja yang menginap telah disediakan tempat khusus berupa bedeng atau hunian sementara di lingkungan proyek.
“Memang ada pekerja yang menginap di lokasi sekitar 10 orang. Tetapi mereka ditempatkan di bedeng bangunan yang sifatnya sementara. Jadi bukan tinggal dan tidur di dalam area pekerjaan utama sebagaimana yang ditudingkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada siang hari beberapa pekerja kerap memanfaatkan area tertentu untuk beristirahat. Namun kondisi tersebut tidak mengganggu jalannya proyek maupun fungsi bangunan yang sedang dikerjakan.
Lebih lanjut, Herman mengajak pihak-pihak yang ingin mengetahui kondisi proyek untuk melihat langsung ke lapangan agar memperoleh gambaran yang utuh dan sesuai fakta.
“Harusnya melihat langsung bagaimana kondisi di dalam dan seperti apa fakta di lapangan. Kami terbuka jika ada inspeksi atau sidak dari DPRD maupun pihak terkait. Setiap hari pun tidak masalah,” tegasnya.
Pihak kontraktor berharap informasi yang berkembang dapat disampaikan secara proporsional dengan mengedepankan fakta dan konfirmasi dari seluruh pihak yang berkepentingan. Dengan demikian, proses pembangunan yang sedang berjalan tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
(hl/sr)



