Tak Hanya Gabah, Inovasi Lantai Jemur Portable Disketapang Kukar Berpotensi Keringkan Kopi hingga Ikan Asin

TENGGARONG – Inovasi lantai jemur portable yang dikembangkan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berpotensi dimanfaatkan untuk mengeringkan berbagai komoditas pangan, tidak hanya gabah. Fasilitas ini juga dapat digunakan untuk kopi, kakao, jagung, ikan asin hingga rumput laut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias, menjelaskan inovasi tersebut diadaptasi dari konsep pengeringan garam menggunakan bangunan berbentuk terowongan. Desainnya kemudian disesuaikan untuk membantu petani mengeringkan hasil panen, terutama di tengah keterbatasan lahan untuk membangun fasilitas permanen.
“Awalnya konsep ini untuk membuat garam. Kami melihat sistemnya bisa dimanfaatkan untuk menjemur gabah, kemudian kami desain ulang dan bekerja sama dengan pihak yang memproduksinya,” kata Ananias, saat diwawancarai awak media baru ini.

Ia menjelaskan, struktur tertutup pada lantai jemur portable membantu menahan panas sehingga proses pengeringan diharapkan berlangsung lebih cepat dibandingkan penjemuran terbuka. Dengan begitu, fasilitas tersebut dapat menjadi alternatif bagi petani maupun pelaku usaha pangan dalam mengolah hasil produksi.
Hingga 2026, sebanyak 104 unit telah terealisasi dari target sekitar 500 unit dalam program dedikasi Bupati Kukar. Penyalurannya menyasar sejumlah sentra produksi pertanian, seperti Tenggarong, Loa Kulu, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu dan sebagian wilayah Anggana.
Meski demikian, pelaksanaan tahap awal masih menghadapi kendala. Ukuran lantai jemur yang mencapai 4 x 24 meter dinilai kurang fleksibel untuk wilayah dengan kondisi lahan berbukit atau terbatas.
Karena itu, Dinas Ketahanan Pangan Kukar berencana mengevaluasi desain pada 2027 dengan mempertimbangkan ukuran lebih pendek, yakni 4 x 12 meter. Perubahan tersebut diharapkan memudahkan petani menempatkan fasilitas sekaligus memperluas jangkauan penerima manfaat.
“Kalau ukurannya lebih kecil, targetnya bisa lebih dari 500 unit karena lebih mudah ditempatkan. Fungsinya tetap sama, untuk membantu pengeringan dan menjaga kualitas hasil pangan,” jelasnya.
Ananias menegaskan pihaknya tetap optimistis melanjutkan program tersebut. Selain mengupayakan dukungan APBD, dinas juga akan menjajaki sumber pendanaan lain apabila anggaran daerah mengalami kendala.
Ia berharap inovasi lantai jemur portable dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan petani padi, tetapi juga pelaku usaha berbagai komoditas pangan di Kukar.
(hl/ya)



