Ritual Adat Ngenhaq Tenaq Digelar di Busang
Izin Leluhur Didahulukan Sebelum Lahan Dikelola
LONGTIME.ID – Di tengah rencana pengelolaan sumber daya alam di wilayah Sei Kelinjau, masyarakat adat Dayak Modang lebih dulu “mengetuk pintu” leluhur. Ritual sakral Ngenhaq Tenaq digelar sebagai permohonan izin sekaligus penyucian tanah sebelum aktivitas pemanfaatan lahan dimulai.
“Tanah bukan sekadar komoditas, melainkan warisan leluhur yang memiliki jiwa,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Fransiskus Khan.
Ia menjelaskan berdasarkan amanat adat, setiap pembukaan lahan wajib didahului prosesi Ngenhaq Tenaq oleh pemilik hak adat. Ritual ini menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, penjaga keseimbangan alam, sekaligus doa agar terhindar dari marabahaya.
“Juga dimaksudkan agar manusia tidak melampaui batas dalam memanfaatkan alam tanpa izin secara spiritual maupun adat,” tambahnya.
Kekayaan budaya dan potensi alam di Kecamatan Busang dan Long Mesangat perlu promosi masif. Tradisi yang terjaga dan lanskap alam yang alami memiliki peluang besar dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya sebagai salah satu fondasi pembangunan daerah.
“Kami meminta keaktifan pemerintah kecamatan agar aktif menyampaikan informasi potensi wisata. Sehingga apa yang menjadi kepentingan dalam pengembangan, dapat diwujudkan pemerintah daerah,” jelas Plt Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Akhmad Rifanie,
Selain itu, Rifanie menyinggung pentingnya dukungan akses jalan dan sarana pendukung. Kehadiran perusahaan di sekitar wilayah adat diharapkan turut berkontribusi membuka aksesibilitas demi mendorong pengembangan wisata dan ekonomi masyarakat.
Diketahui, Ritual Ngenhaq Tenaq menjadi pengingat di tengah arus pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam, nilai adat dan keseimbangan dengan alam tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Modang Sei Kelinjau. Prosesi adat tersebut berlangsung di Sun Koung Pedac’q Gunung Benteng, Sabtu (28/02) lalu. (rh/red)



