Longtime.id – Pergantian kepemimpinan di tubuh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Kabupaten Kutai Timur tidak hanya menandai berakhirnya satu periode organisasi, tetapi juga membuka babak baru evaluasi mutu dan relevansi pendidikan Islam di tengah tuntutan zaman yang kian kompleks. Melalui Musyawarah Daerah (Musda) ke-4, Gatot Suwoko resmi terpilih secara mufakat sebagai Ketua JSIT Kutim periode 2026–2030.
Musda yang digelar di Aula Gedung Wanita, Bukit Pelangi, Minggu (08/02) kemarin, berlangsung khidmat dan demokratis. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang konsolidasi bagi sekolah-sekolah Islam terpadu di Kutim untuk merumuskan arah organisasi empat tahun ke depan.
Dalam struktur kepengurusan baru, Gatot Suwoko didampingi Hamzah sebagai Sekretaris dan Yulia Sriwayuningsih sebagai Bendahara. Formasi ini diharapkan mampu memperkuat tata kelola organisasi yang selama ini menjadi sorotan, terutama terkait standardisasi mutu dan profesionalisme pengelolaan sekolah.
Gatot menegaskan bahwa amanah yang diembannya bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab kolektif untuk menjawab tantangan pendidikan Islam yang dituntut semakin adaptif, kompetitif, dan kredibel di mata masyarakat.
“JSIT daerah harus menjadi wadah kolaborasi yang solid untuk melahirkan sekolah Islam terpadu yang bermutu, berkarakter, dan mampu bersaing,” ujarnya.
Ia menyebutkan, fokus utama kepengurusan baru diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, khususnya peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan. Menurutnya, kualitas sekolah tidak akan bergerak jauh tanpa kualitas guru dan manajemen yang terukur.
Selain aspek SDM, Gatot juga menekankan pentingnya standarisasi tata kelola sekolah berbasis mutu SIT. Langkah ini dinilai krusial untuk membangun kepercayaan publik serta memastikan seluruh sekolah anggota JSIT dikelola secara akuntabel dan transparan.
Tak kalah penting, JSIT Kutim berencana memperluas jejaring kemitraan strategis dengan pemerintah daerah dan lembaga eksternal lainnya. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat dukungan kebijakan sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam di seluruh wilayah Kutai Timur.
Pergantian kepemimpinan ini menjadi penanda bahwa JSIT Kutim dituntut tidak hanya menjaga identitas keislaman, tetapi juga menjawab ekspektasi publik terhadap kualitas, integritas, dan daya saing pendidikan Islam di masa depan. (rh/mam)



