KUTAI TIMUR

Sekolah di Kutim Dibuka Bertahap, Enam Kecamatan Masih PJJ

SANGATTA – Pemulihan pembelajaran tatap muka di Kutai Timur (Kutim) dilakukan bertahap mengikuti kondisi kualitas udara. Tiga kecamatan di zona hijau kembali menggelar pembelajaran tatap muka (PTM), sembilan kecamatan di zona kuning menerapkan pembukaan terbatas untuk jenjang SMP, sementara enam kecamatan zona merah tetap menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, mengatakan kebijakan tersebut mempertimbangkan perkembangan kualitas udara dan keselamatan peserta didik di tengah risiko pencemaran akibat kebakaran hutan dan lahan.

“Tiga kecamatan zona hijau dapat kembali menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Sembilan kecamatan zona kuning memperoleh pembukaan terbatas bagi jenjang SMP, sedangkan enam kecamatan zona merah masih mempertahankan PJJ,” jelasnya.

Disdikbud Kutim akan terus memantau indeks kualitas udara bersama instansi terkait. Evaluasi dalam tujuh hari ke depan menjadi dasar untuk menentukan apakah PJJ perlu diperpanjang atau PTM dapat diperluas.

Di sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Kutim mengingatkan bahwa pencemaran udara merupakan salah satu faktor risiko gangguan pernapasan, tetapi tidak semua kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dikaitkan langsung dengan asap kebakaran.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.

Untuk mengurangi paparan polutan, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Masker N95 atau KN95 dapat digunakan sebagai perlindungan terhadap partikel halus. Sekolah juga perlu memantau kondisi lingkungan dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan.

Pengelola fasilitas kesehatan dan ruang publik turut dianjurkan menjaga kebersihan ruangan, mengendalikan debu, memeriksa ventilasi, serta menggunakan penyaring udara jika diperlukan.

Pemerintah daerah menempatkan kondisi udara sebagai pertimbangan dalam pemulihan kegiatan belajar. Meski sebagian sekolah kembali dibuka, kewaspadaan terhadap paparan polusi tetap diperlukan agar keberlangsungan pendidikan tidak mengabaikan keselamatan peserta didik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }