KUTAI TIMUR

7,67 Detik Menuju Puncak, Kharis Tessa Sofia Ukir Prestasi Nasional untuk Kutim

SANGATTA – Dari kebiasaan memanjat pohon saat kecil, Kharis Tessa Sofia kini mampu menaklukkan lintasan panjat tebing setinggi 15 meter hanya dalam 7,67 detik. Atlet muda asal Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), itu tak sekadar mencatatkan waktu impresif, tetapi juga menyabet gelar juara pertama nomor boulder kategori U-15 putri dalam National Climbing Series 3 Boulder–Speed Sangatta Bupati Cup 2026.

Prestasi tersebut diraih di tengah persaingan 222 atlet dari 11 provinsi yang berlaga pada 9–14 Oktober 2026 di Sangatta. Di antara para peserta yang datang membawa ambisi masing-masing, Kharis membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk bersaing di level nasional.

Namun, di balik catatan waktu dan gelar juara itu, tersimpan perjalanan yang tidak selalu mulus. Ada rasa penasaran sejak kecil, keraguan ketika berhadapan dengan atlet yang lebih berpengalaman, hingga kekalahan yang justru membentuk mental bertandingnya.

Siswi SMPN 1 Sangatta Utara tersebut merupakan putri Sovia Udau, S.A.P., M.A.P., dan Karlos Bit. Ketertarikannya pada aktivitas memanjat sudah terlihat ketika berusia sekitar empat hingga enam tahun. Kala itu, pohon menjadi salah satu tempat yang kerap ia panjat. Bahkan, atap rumah pun pernah menjadi sasaran rasa ingin tahunya.

Bakat tersebut kemudian menemukan jalannya pada 2018. Saat berusia enam tahun, Kharis diajak sang ibu yang ketika itu menjadi salah satu panitia kejuaraan panjat tebing. Dari kesempatan itulah ia mulai mengenal olahraga yang kemudian mengubah kegemarannya menjadi sebuah perjalanan prestasi.

Meski sempat berhenti karena kembali ke kampung halaman, ketertarikannya tidak benar-benar padam. Setelah kembali ke Sangatta, Kharis mulai menekuni latihan dan mengikuti berbagai perlombaan. Perlahan, aktivitas yang semula berawal dari rasa penasaran itu berkembang menjadi keseriusan untuk berprestasi.

Langkah Kharis menuju podium tidak selalu dihiasi kemenangan. Pada awal mengikuti kompetisi, ia sempat merasa minder ketika harus berhadapan dengan atlet yang lebih senior. Perbedaan postur tubuh dan pengalaman bertanding membuatnya menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dipelajari.

Pengalaman di sebuah perlombaan di Yogyakarta menjadi salah satu pelajaran penting. Saat itu, Kharis harus puas menempati posisi kelima. Hasil tersebut mendorongnya melihat kembali kemampuan sendiri sekaligus mempelajari kelebihan atlet lain.

Alih-alih menyerah, ia memilih menjadikan kekalahan sebagai bahan evaluasi. Baginya, setiap pertandingan memberikan kesempatan untuk mengenali kekurangan dan memperbaiki kemampuan sebelum kembali menghadapi persaingan. “Kalau sudah mencoba sesuatu, rasanya apa yang sudah saya coba harus saya selesaikan,” ungkap Kharis.

Prinsip itu menjadi salah satu pegangan yang membuatnya terus bertahan. Ia belajar bahwa hasil pertandingan bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan juga tentang seberapa banyak pelajaran yang bisa dibawa pulang.

Kerja keras tersebut terbayar di National Climbing Series 3 Bupati Cup 2026. Kharis menorehkan waktu 7,67 detik pada nomor speed di lintasan setinggi 15 meter. Ia juga berhasil merebut juara pertama nomor boulder kategori U-15 putri.

Kedua nomor tersebut menuntut kemampuan yang berbeda. Pada nomor speed, atlet dituntut bergerak cepat dengan koordinasi dan ketepatan yang tinggi untuk mencapai puncak lintasan. Sementara itu, nomor boulder mengandalkan kekuatan, keseimbangan, teknik, serta kecermatan membaca jalur panjatan.

Menariknya, Kharis mengaku lebih percaya diri ketika bertanding di nomor boulder. Ia merasa bisa lebih berkonsentrasi pada kemampuan dan strategi sendiri tanpa harus berhadapan langsung dengan lawan di lintasan yang sama. Meski demikian, ia tetap menyukai tiga nomor dalam panjat tebing, yakni lead, boulder, dan speed.

(sr/ya)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }