KUTAI TIMUR

222 Atlet dari 11 Provinsi Bersaing di Kutim, NCS III Jadi Penentu Menuju Seleksi Nasional

SANGATTA – Sebanyak 222 atlet panjat tebing dari 11 provinsi meramaikan National Climbing Series (NCS) III Bupati Kutim Cup V Tahun 2026 di Sangatta. Bukan sekadar perebutan gelar juara, seri penutup ini juga menjadi ajang penting menjelang seleksi nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 16–19 Oktober 2026.

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman membuka kejuaraan sekaligus meresmikan dinding panjat tebing kategori boulder di Venue Panjat Tebing Bukit Pelangi (Sport Climbing), Sabtu (10/10/2026). Kompetisi berlangsung pada 9–14 Oktober 2026 sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim.

Kehadiran ratusan atlet dari berbagai daerah menempatkan Kutim sebagai pusat persaingan panjat tebing nasional selama enam hari. Lebih dari itu, kejuaraan ini menjadi kesempatan bagi atlet menguji hasil latihan, memperluas pengalaman bertanding, dan membuka peluang melangkah ke jenjang prestasi yang lebih tinggi.

Ketua panitia yang juga Ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kutim, Aji Fahriza Hakim, melaporkan bahwa peserta terdiri atas 127 atlet putra dan 95 atlet putri. Mereka mewakili Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Partisipasi atlet usia dini turut menjadi perhatian. Sebanyak 40 atlet kategori U-11, dengan rentang usia 7–10 tahun, ikut berkompetisi. Kehadiran mereka menunjukkan pentingnya menyediakan ruang pertandingan bagi atlet muda sebagai bagian dari regenerasi dan pembinaan panjat tebing.

Aji, yang akrab disapa Riza, mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Kutim, sponsor, pengurus FPTI, panitia, serta komunitas olahraga yang terlibat dalam penyelenggaraan kejuaraan. Dukungan tersebut antara lain datang dari PT Kaltim Prima Coal, PT Indexim Coalindo, Bankaltimtara, PT Pamapersada Nusantara, dan PT Orica Mining Services.

Ia berharap seluruh rangkaian pertandingan berlangsung lancar, dengan keselamatan atlet sebagai prioritas dan sportivitas tetap dijunjung tinggi.

Sorotan utama kejuaraan ini terletak pada kaitannya dengan agenda pembentukan tim nasional. Sekretaris Umum Pengurus FPTI Pusat, Wahyu Pristiawan Buntoro, yang hadir mewakili Ketua Umum FPTI Zannuba Arifah atau Yenny Wahid, menyebut NCS di Kutim sebagai seri terakhir dalam rangkaian kompetisi tahun ini.

Hasil pemeringkatan dari rangkaian seri tersebut akan menjadi salah satu dasar dalam proses seleksi nasional pada 16–19 Oktober 2026. Seleksi itu ditujukan untuk menjaring atlet yang berpeluang memperkuat tim nasional melalui program pemusatan latihan nasional (Pelatnas), sesuai kelompok usia dan nomor pertandingan yang dipersiapkan.

Salah satu atlet yang berpeluang mengikuti proses tersebut adalah Rizki Syukur dari Kalimantan Timur. Menurut Wahyu, atlet itu menunjukkan peringkat yang baik pada kelompok usia di bawah 17 tahun.

Momentum ini membuat persaingan di Kutim memiliki arti lebih luas bagi para peserta. Selain mengejar podium, atlet juga berhadapan dengan kesempatan memperkuat posisi dalam pemeringkatan dan membuka jalan menuju tahapan pembinaan berikutnya.

Wahyu menilai, perkembangan panjat tebing Indonesia setelah capaian di Olimpiade 2024 dan Asian Games di Jepang perlu diikuti dengan pembinaan yang konsisten. Kompetisi berjenjang, dukungan pendanaan, serta penghargaan yang memadai bagi atlet menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan prestasi.

FPTI, lanjutnya, merencanakan lima seri National Climbing Series pada 2027. Penyelenggaraan yang semakin baik diharapkan meningkatkan mutu kompetisi sekaligus memperluas kesempatan atlet untuk berkembang.

Ketua Umum Pengurus Provinsi FPTI Kalimantan Timur, Eli Luhritia Nova, turut mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan panitia dalam menyelenggarakan kejuaraan nasional tersebut.

Ia mengingatkan bahwa panjat tebing tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik. Keberanian, kedisiplinan, konsentrasi, daya tahan, dan strategi turut menentukan kemampuan atlet menghadapi tantangan lintasan serta tekanan pertandingan. “Panjat tebing bukan sekadar olahraga yang mengandalkan kekuatan fisik. Cabang olahraga ini juga membutuhkan keberanian, ketahanan, kedisiplinan, konsentrasi, dan strategi yang matang,” tegasnya.

Menurut Eli, atlet yang meraih juara perlu menjadikan pencapaiannya sebagai motivasi untuk terus berkembang. Sementara itu, peserta yang belum memperoleh hasil maksimal diharapkan tetap berlatih dan tidak menyerah.

Ia menekankan bahwa prestasi di tingkat nasional maupun internasional tidak dapat dibangun secara instan. Pembinaan berkelanjutan dan kesempatan berkompetisi harus menjadi bagian dari proses untuk melahirkan atlet yang mampu membawa nama Kalimantan Timur dan Indonesia.

Peluang regenerasi juga terbuka melalui masuknya panjat tebing dalam cabang olahraga Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Langkah tersebut diharapkan memperkenalkan olahraga panjat tebing lebih luas di lingkungan sekolah sekaligus memperkuat basis pencarian bibit atlet sejak dini.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa penyelenggaraan Bupati Cup yang telah memasuki edisi kelima merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pembinaan panjat tebing di daerah.

Ia berharap kejuaraan ini mampu mendorong peningkatan prestasi atlet dari kelompok junior hingga senior. Kehadiran atlet berpengalaman di tingkat nasional dan internasional juga diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi peserta untuk berani menetapkan target lebih tinggi.

Sejumlah atlet andalan Indonesia turut hadir, di antaranya Ardhana Cikal Damarwulan, yang disebut dalam laporan sebagai peraih medali emas nomor boulder pada SEA Games 2025, serta Aditya Tri Syahriah, yang menurut laporan panitia memegang rekor nomor speed di Asian Games Jepang.

Bagi atlet muda, kehadiran para atlet tersebut dapat menjadi gambaran mengenai proses panjang yang dibutuhkan untuk mencapai prestasi. Latihan disiplin, konsistensi, penguasaan teknik, dan keberanian menghadapi tantangan menjadi bekal yang harus dibangun sejak awal.

Di samping pembinaan atlet, Ardiansyah menyoroti pentingnya menjaga kondisi venue panjat tebing Bukit Pelangi. Pemeliharaan rutin dan penanganan kerusakan harus menjadi perhatian agar fasilitas tetap aman digunakan untuk latihan maupun pertandingan.

Menurutnya, arena panjat tebing di Kutim telah menjadi salah satu tempat aktivitas olahraga masyarakat, termasuk anak-anak dan generasi muda. Aktivitas latihan yang berlangsung secara rutin menjadi modal untuk menemukan dan mengembangkan potensi atlet daerah.

Ardiansyah berharap kejuaraan tersebut dapat terus digelar setiap tahun dan berlanjut ke Bupati Cup VI pada 2027. Dengan fasilitas yang terawat, pembinaan terarah, dan kompetisi yang berkesinambungan, Kutim diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pertandingan nasional, tetapi juga berkontribusi dalam mencetak atlet panjat tebing berprestasi.

(sr/ya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }