Longtime.id – Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Kutai Timur akhirnya menunjukkan lompatan nyata. Berdasarkan hasil pengawasan kearsipan nasional 2025, Kutim melesat dari peringkat 156 ke posisi 115—naik 41 tingkat sekaligus mempertahankan kategori BB dengan predikat Sangat Baik.
Capaian ini bukan sekadar angka statistik. Kenaikan peringkat tersebut menjadi indikator reformasi birokrasi yang mulai menunjukkan hasil, terutama dalam penataan administrasi dan pengelolaan arsip sebagai memori kolektif daerah. Digitalisasi dokumen, peningkatan standar sarana kearsipan, hingga penguatan sistem pengawasan internal menjadi faktor pendorong utama.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan Dispusip Kutim, Yayu Eka Sari, menyebut hasil ini sebagai validasi tata kelola arsip di Kutim berada di jalur yang tepat.
“Alhamdulillah, tren positifnya sangat luar biasa. Dari peringkat 156 melonjak ke 115 dengan mempertahankan predikat BB atau Sangat Baik. Ini validasi sistem kearsipan kita sudah berada di jalur yang benar,” ujarnya belum lama ini.
Namun, di balik euforia kenaikan peringkat, Dispusip tidak ingin terlena. Posisi 115 masih dianggap sebagai pijakan awal. Target berikutnya lebih ambisius: menembus 100 besar nasional.
“Target kami jelas, tahun ini kami berupaya keras masuk 100 besar. Pendampingan dan pengawasan internal akan terus diperkuat agar seluruh perangkat daerah sadar arsip adalah aset strategis,” tegas Yayu.
Langkah strategis pun mulai disiapkan. Dispusip akan memfokuskan penguatan sistem kearsipan digital serta peningkatan kompetensi arsiparis di setiap perangkat daerah. Pendampingan intensif akan dilakukan agar standar pengelolaan arsip semakin seragam dan terukur.
Bagi pemerintah daerah, arsip bukan sekadar tumpukan dokumen administratif. Ia adalah fondasi transparansi, pijakan pengambilan kebijakan, sekaligus instrumen perlindungan hukum pemerintah dan masyarakat.
Kenaikan 41 peringkat ini menunjukkan perubahan ritme kerja birokrasi yang lebih disiplin dan terstruktur. Namun, tantangan masih terbentang. Konsistensi implementasi, penguatan SDM, serta adaptasi teknologi menjadi kunci agar lonjakan ini tidak berhenti sebagai capaian sesaat.
Jika target 100 besar berhasil diraih, itu bukan hanya soal prestise nasional, tetapi sinyal kuat tata kelola pemerintahan Kutim semakin akuntabel dan profesional. (rh/mam)



