NASIONAL

Chairil Anwar di Keabadian, Walau Singkat Namun Melegenda

(Chairil Anwar, Sumber Foto: MudaBicara.com)

Penulis: Abdul Rajak Keliwar & Novita N (Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mulawarman)

“Aku mau hidup seribu tahun lagi” – Chairil Anwar (Puisi Aku, 1943).

Siapa yang tidak mengenal legenda sastra Indonesia Chairil Anwar. Bagi kita yang menyukai sastra terutama puisi dan suka menulis puisi sudah pasti mengenal salah satu sastrawan Indonesia ini, Chairil Anwar yang juga adalah pelopor terbentuknya angkatan 45.

Membicarakan angkatan 45 tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok Chairil Anwar. Chairil Anwar tidak hanya terkenal karena pelopor angkatan sastra tersebut, tetapi pada dasarnya Ia memang popular karena mudah bergaul. Ia menghabiskan masa mudanya dengan berkumpul bersama seniman-seniman dari berbagai bidang, sehingga pada zamannya tidak heran jika Ia paling banyak dikenal di antara Sastrawan lainnya.

Dapat dikatakan pula dari banyaknya sastrawan Angkatan 45, Chairil Anwar merupakah salah satu yang menggunakan tulisan-tulisannya di dalam sajak maupun puisi untuk mewakili kegelisahan hatinya terhadap kebijakan yang berlaku pada masa itu, sehingga namanya semakin dikenal Karena keberaniannya. Chairil Anwar tahu bagaimana cara memanfaatkan dan menggunakan bahasa untuk menyampaikan pendapat dengan karya sastra. Karena hal itu juga, karya sastra sempat menjadi hal yang ditakuti oleh beberapa pihak yang memiliki kedudukan pada masa itu.

Dia tidak memiliki julukan-julukan tertentu seperti tokoh-tokoh besar Indonesia lainnya, seperti Sultan Hassanudin Si Ayam Jantan dari Timur atau seperti Bung Karno Putra Sang Fajar. Banyak orang justru memberikan julukan Si Binatang Jalang dari penggalan puisi Chairil Anwar berjudul Aku karena merupakan puisi miliknya yang paling membekas.

Meskipun tidak memiliki julukan yang superior, perannya bagi Bahasa, Seni, dan Sastra di Indonesia jauh dari kata remeh. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Chairil Anwar membawa warna tersendiri bagi perkembangan Sastra di Indonesia. Pecinta Sastra tentu tahu bagaimana awalnya Sastra Indonesia  hanya seputar prosa sebagai hiburan dan bahan bacaan rakyat. Munculnya sosok Chairil Anwar ini mengubah Sastra terutama Puisi tidak hanya sebagai cerita belaka, tetapi Dia menggunakannya untuk menyampaikan pesan dan kritik pada zamannya. Hal itulah yang membuat Chairil Anwar berbeda dengan pendahulu-pendahulunya.

Perjalanan hidup Pujangga Indonesia ini bisa dibilang cukup singkat, lahir pada tanggal 26 Juli 1992 menikmati kehidupannya sebagai Sastrawan Indonesia dan tiba saat usianya 27 tahun dirinya dipanggil oleh Sang Empunya Kehidupan. Walau singkat namun berarti, semua orang tidak lupa dengan namanya. Memberi bekas pada rekan-rekan seangkatan, anak, cucu, dan semua pecinta Sastra di seluruh pelosok Nusantara. Bisa dibayangkan tentunya bagaimana Chairil Anwar mampu memberikan kesan mendalam hingga sosoknya tetap dikenang hingga saat ini.

Kita akan mengalami hal yang sama, kematian tidak dapat dihindari dan Chairil Anwar tahu pasti itu juga akan datang kepadanya. Seolah sudah siap, ketika Dia dipanggil Dia pergi tidak sia-sia. Seperti Taji yang tajam pada kaki Ayam Jantan yang mampu memberi bekas pada tanah dan makhluk sekitarnya, demikian pula Chairil Anwar memberikan talentanya untuk tempat kelahirannya sehingga kita dapat menikmati karya-karyanya hingga hari ini.

Ketidakhadiran sosoknya di antara kita saat ini tidak bisa membatasi ruang apresiasi bagi semua karya Chairil yang telah dilahirkannya. Maha Karya sang Pujangga yang ditinggalkannya untuk kita merupakan warisan dan juga wujud keabadian namanya. Masih terdengar puisi-puisinya dibacakan milenial dan anak-anak sekolah masih mengunjungi pusaranya menaburkan bunga serta membasahi tanahnya.

Hingga kepergian Chairil pada 28 April 1989 setelah perjuangan melawan penyakit yang dideritanya, puluhan sajak, puisi, maupun prosa lahir dari tangan Sang Pujangga selama 27 tahun kehidupannya. Karya-karya yang dihasilkan memiliki warna berbeda dan tentu itu memberikan pengaruh besar bagi perkembangan Sastra Indonesia. Ia memberikan pandangan lain, bahwa makna dari setiap kata-kata yang kita gunakan tidak hanya sebatas makna di dalam kamus, tetapi sesuai konteks.

Isi, makna, dan penggunaan diksi yang menjadi keunikan Chairil dalam menuliskan berbagai karya Sastra. Chairil menjadikan setiap karyanya sebagai pengganti lidah untuk berbahasa, menggunakan karyanya untuk menyampaikan pesan dengan kemasan dan diksi yang unik, sehingga untuk memahami maknanya tidak bisa hanya mengandalkan kamus. Itulah peran konteks yang dimaksud oleh Chairil Anwar, memberikan keluasan bagi pembaca untuk berimajinasi dengan pilihan-pilihan kata yang digunakan untuk memaknai setiap rangkaian sajak, puisi, maupun prosanya.

Chairil menggambarkan bagaimana kegiatan memahami makna karya sastra yang tidak boleh dibatasi dengan kebakuan dan setiap kata yang dipilih memiliki kaitan satu sama lain. Kita bisa menganggap bahwa setiap kata dalam sebuah karya sastra seperti gelas kosong yang dapat kita isi maknanya sesuai dengan konteks. Keunikan-keunikan itulah yang membuat karya Sastra lebih hidup ditangan polesan Chairil Anwar.

Dari semua hal yang telah dilakukan Chairil demi perkembangan Sastra Indonesia, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana Ia menggunakan karya Sastra untuk membuat perubahan. Perubahan yang dilakukannya tidak dibatasi dalam kurun waktu tertentu, tetapi apa yang sudah dibuatnya masih kita gunakan hingga sudah 33 tahun lamanya kita ditinggalkan Sang Pujangga sejak 1989.

Itulah arti dari keabadian Chairil Anwar. Raganya sudah hilang, tetapi warisan yang ditinggalkannya masih kita gunakan. Banyak karya yang Ia hasilkan menunjukkan bahwa Ia tumbuh bersama talenta yang dimilikinya dengan pesat, tetapi Ia juga layu dengan cepat oleh karena penyakit. Chairil Anwar pergi dengan meninggalkan kisah hidup yang Ia poles menjadi karya sastra.

Karya-karya sastra yang dihasilkannya menjadi bukti nyata bahwa betul seperti dengan apa yang Ia tuliskan “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Penggalan puisi tersebut seperti sebuah doa dan Ia benar-benar akan hidup seribu tahun lamanya di hati setiap pecinta sastra Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }
news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

news-1701