KUTAI TIMUR

Kutim Jadi Panggung Panjat Tebing Nasional, Peluang Ekonomi Daerah Ikut Terbuka

SANGATTA – Kehadiran atlet dari 11 provinsi dalam National Climbing Series (NCS) 3 Tahun 2026 membawa lebih dari sekadar persaingan olahraga ke Kutai Timur (Kutim). Kejuaraan nasional ini menjadi panggung bagi daerah untuk memperluas promosi, menggerakkan usaha lokal, sekaligus menguji kesiapan fasilitas olahraga dalam mendukung kompetisi tingkat nasional.

Kutim menjadi salah satu daerah yang dipercaya menyelenggarakan seri kejuaraan tersebut bersama Manado dan Tangerang. Bagi pemerintah daerah, kepercayaan ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan kapasitas Sangatta sebagai lokasi penyelenggaraan kompetisi nasional sekaligus memperkenalkan potensi Kutim kepada peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, Basuki Isnawan, menyebut penunjukan tersebut sebagai kebanggaan sekaligus peluang yang perlu dimanfaatkan secara maksimal.

“Ini menjadi kebanggaan bagi Kutai Timur karena dipercaya menjadi salah satu tuan rumah kejuaraan nasional. Kehadiran peserta dari 11 provinsi tentu membawa dampak positif, baik bagi perkembangan olahraga maupun pengenalan daerah,” ujar Basuki saat diwawancarai di Venue Panjat Tebing Bukit Pelangi, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, penyelenggaraan kompetisi berskala nasional tidak semestinya hanya berorientasi pada pertandingan. Arus kedatangan atlet, pelatih, ofisial, dan pendamping juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan manfaat ekonomi.

Sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berpotensi merasakan dampak dari aktivitas peserta selama berada di Sangatta. Kebutuhan tempat menginap, konsumsi, dan layanan pendukung menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang menyertai pelaksanaan kejuaraan.

Basuki menilai, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk menghubungkan agenda olahraga dengan promosi potensi lokal. Peserta yang datang dari luar daerah tidak hanya mengikuti pertandingan, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat Kutim.

Meski demikian, manfaat ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya peserta yang hadir. Keterlibatan pelaku usaha, pengenalan produk lokal, dan pengelolaan kegiatan yang terarah diperlukan agar peluang tersebut dapat memberikan hasil yang lebih luas bagi masyarakat.

Di sisi lain, kepercayaan menjadi tuan rumah NCS 3 juga menempatkan kesiapan fasilitas sebagai bagian penting dari penyelenggaraan. Sarana pertandingan yang memenuhi kebutuhan teknis menjadi penunjang bagi atlet untuk berkompetisi sekaligus memastikan kegiatan berjalan sesuai standar cabang olahraga panjat tebing.

Basuki menegaskan, keberadaan fasilitas tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Sarana olahraga harus dikelola dan dipelihara dengan baik, kemudian dimanfaatkan secara konsisten untuk latihan, pembinaan, serta penyelenggaraan kompetisi.

Menurutnya, pengembangan olahraga membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Ketersediaan venue harus diimbangi dengan latihan terstruktur, peningkatan kualitas pelatih, kedisiplinan atlet, serta kesempatan bertanding yang berkesinambungan.

Melalui NCS 3, Kutim memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan fasilitas yang tersedia sekaligus memperluas pengalaman atlet daerah menghadapi persaingan dengan peserta dari berbagai provinsi.

Potensi pembinaan panjat tebing Kutim juga terlihat dari pengalaman salah satu atlet daerah yang telah mengikuti proses seleksi menuju pemusatan latihan nasional (Pelatnas) dan mendapat kesempatan mengikuti World Climbing di China.

Basuki menyebut pengalaman tersebut sebagai dorongan bagi atlet lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan. Namun, menurutnya, pencapaian pada level nasional maupun internasional membutuhkan proses panjang yang ditopang latihan terstruktur, kesiapan mental, dukungan pelatih, dan kompetisi berkelanjutan. “Capaian dan pengalaman seperti itu menjadi motivasi bagi atlet lainnya untuk meningkatkan kemampuan,” ujarnya.

Penyelenggaraan NCS 3 di Kutim pada akhirnya menghadirkan dua peluang yang berjalan beriringan: memperkuat pembinaan prestasi olahraga dan memperluas manfaat kegiatan bagi daerah. Tantangannya adalah memastikan momentum sebagai tuan rumah tidak berakhir ketika pertandingan usai, melainkan berlanjut melalui pemanfaatan fasilitas, peningkatan kualitas atlet, dan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi lokal.

(sr/ya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }