Postingan Jersey Baru Timnas Indonesia Diserbu Komentar Netizen
LONGTIME.ID – Postingan peluncuran jersey terbaru Timnas Indonesia langsung dibanjiri komentar netizen. Tak lama setelah desain resminya diperlihatkan, akun Instagram Timnas Indonesia dan Kita Garuda berubah jadi ruang debat terbuka, dipenuhi pujian, sindiran, sampai kritik tajam dari fans sepak bola Tanah Air.
Sorotan terbesar datang dari tampilan jersey yang dinilai terlalu sederhana. Sejumlah warganet menilai desain barunya kurang menghadirkan kesan kuat sebagai seragam sepak bola, bahkan ada yang menyebut tampilannya lebih mirip kostum atlet bulutangkis.
Reaksi itu muncul hampir bersamaan begitu desain anyar skuad Garuda dikenalkan ke publik. Banyak fans langsung membedah detail visual jersey kandang, terutama motif garis putih di bagian depan yang justru memicu tafsir liar di kolom komentar.
Sebagian netizen menilai garis-garis itu tidak cukup mewakili semangat permainan sepak bola. Bagi mereka, desain tersebut terlihat datar dan kurang menggambarkan karakter Timnas Indonesia yang selama ini lekat dengan gairah dan tensi tinggi di lapangan.
Tak sedikit pula yang melontarkan komentar bernada satir. Motif garis pada jersey kandang bahkan dikaitkan dengan kegagalan Timnas Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026, sehingga desain yang seharusnya membawa identitas justru dibaca sebagai simbol luka.
“Makna dari garis-garis putih dijersey home adalah goresan luka gagal piala dunia….” tulis seorang netizen.
Komentar lain juga menyinggung hal serupa dengan nada menyindir. Reaksi semacam ini memperlihatkan bahwa publik tidak hanya menilai jersey dari sisi tampilan, tetapi juga membawanya ke konteks emosi yang masih menempel pada perjalanan tim nasional.
“Garis² putus melambangkan perjalanan gagal ke pildun?” tulis netizen lainnya.
Di tengah banjir kritik, ada juga komentar yang mencoba melihat sisi positifnya. Sebagian fans memilih tak terlalu mempermasalahkan desain, asalkan performa Timnas Indonesia di lapangan bisa berbicara lebih banyak.
“Gpp kalo jersey nya biasa aja tapi main nya jadi luar biasa, jadi semangat lagi nonton Timnas ?,” tulis seorang netizen.
Selain menyoroti desain barunya, fans juga ramai membandingkan jersey ini dengan rilisan sebelumnya yang sempat dikeluarkan apparel lokal Erspo pada 2025. Dalam diskusi itu, jersey lama justru disebut lebih niat dari sisi konsep visual maupun cara promosi ke publik.
Sebagian netizen merasa apparel lokal yang dulu sempat dipandang sebelah mata malah meninggalkan kesan lebih kuat. Mereka menilai proses peluncuran jersey lama terlihat lebih serius karena melibatkan para pemain secara langsung dengan pendekatan yang dianggap lebih total.
“Apparel lokal di hina. Apparel luar jauh lebih di hina. Tapi erspo yg 2025 itu paling niat, photoshoot nya aja disamperin semua pemain satu satu ke kandang nya,” ujar fans Garuda lainnya.
Di balik riuh komentar netizen, pihak apparel menegaskan jersey terbaru ini tetap lahir dengan konsep yang tidak sembarangan. Mereka menyebut desain tersebut terinspirasi dari sejarah sepak bola Indonesia, khususnya seragam yang digunakan pada akhir era 1990-an.
Jersey kandang tetap mempertahankan warna merah sebagai identitas utama Timnas Indonesia. Perbedaannya terletak pada tambahan aksen garis putih di bagian depan, elemen yang justru menjadi titik paling ramai diperdebatkan sejak pertama kali diunggah di media sosial.
Sementara itu, jersey tandang mengusung warna dasar putih dengan sentuhan motif batik khas Indonesia. Konsep ini dirancang untuk membawa unsur budaya ke dalam tampilan jersey, sehingga seragam tidak hanya dipakai untuk bertanding, tetapi juga menonjolkan identitas nasional.
Peluncuran jersey terbaru itu digelar di Plaza Utara Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (12/3/2026). Dalam kesempatan itu, pihak apparel menjelaskan bahwa desain anyar Timnas Indonesia berupaya memadukan nuansa klasik dengan tuntutan teknologi modern.
Mereka menyebut meski tampilannya mengacu pada sejarah, konstruksi jersey tetap dibuat untuk kebutuhan permainan masa kini. Material yang dipakai diklaim mampu memberi kenyamanan lebih saat digunakan bertanding.
“Walaupun tampilannya merefleksikan sejarah, konstruksinya dirancang untuk masa depan. Jersey ini menggunakan kain jacquard dinamis yang ringan, breathable, dan cepat kering sehingga memberikan kebebasan bergerak serta kenyamanan maksimal selama pertandingan,” tulis pernyataan tersebut.
Selain material, teknologi pewarnaan juga diklaim menjadi salah satu keunggulan jersey kandang. Warna merah disebut dirancang agar tetap kuat meski dipakai dalam berbagai pertandingan dan dicuci berulang kali.
Di sisi lain, jersey tandang ikut menjadi perhatian karena menampilkan motif batik dengan pendekatan visual yang lebih modern. Berbagai elemen seperti garis, pola titik, dan simbol tradisional diterjemahkan dalam bentuk geometris, tekstur piksel, hingga gradasi warna.
Motif itu disebut merepresentasikan dinamika permainan sepak bola dan futsal. Lewat pendekatan tersebut, jersey tandang diharapkan menjadi lebih dari sekadar perlengkapan pertandingan dan bisa tampil sebagai simbol kebanggaan budaya Indonesia.
Dari sisi performa, jersey tandang juga menggunakan kain jacquard ringan yang diklaim mampu memberikan sirkulasi udara optimal serta menyerap keringat dengan cepat. Pihak apparel menegaskan, unsur budaya yang dibawa dalam desain tetap diseimbangkan dengan kebutuhan fungsional pemain di lapangan.
“Jersey away menjadi lebih dari sekadar perlengkapan pertandingan, melainkan kanvas bergerak yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia dan menjadikan setiap pertandingan sebagai perayaan warisan, kebanggaan, dan performa.” tulisnya. (*)



