Megah di Atas Sungai, Tersendat di Darat
Jembatan Nibung Diresmikan Saat Akses Belum Sepenuhnya Siap
Longtime.id – Bentang baja Jembatan Nibung akhirnya diresmikan, Selasa (24/02) lalu. Feri kayu yang selama ini jadi tumpuan warga Kaubun–Sangkulirang resmi ditinggalkan. Namun euforia itu menyisakan pertanyaan, mengapa penghubung bernilai ratusan miliar rupiah ini dibuka saat sebagian akses jalannya masih belum rampung?
Peresmian Jembatan Nibung menandai babak baru konektivitas antara Desa Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun, dan Desa Pelawan, Kecamatan Sangkulirang. Infrastruktur sepanjang 390 meter itu dibangun melalui APBD Provinsi Kalimantan Timur dan diresmikan langsung Gubernur Kaltim Rudi Mas’ud, didampingi Bupati Kutai Timur Ardiansyah serta Wakil Bupati Mahyunadi.
Secara fisik, jembatan tersebut kokoh membentang di atas Sungai Nibung. Pun dengan fungsi, ia memangkas ketergantungan warga pada feri penyeberangan di Pelabuhan GM Sempayau dan WKL Pelawan. Kendaraan kini bisa melintas tanpa menunggu pasang surut air sungai atau mengantre berjam-jam.
Di sisi Kadungan Jaya, ratusan meter jalan belum dilapisi semen. Di sisi Pelawan, puluhan kilometer ruas jalan masih membutuhkan penanganan serius. Saat hujan turun, ruas tersebut berpotensi berubah licin dan berlumpur, menggerus manfaat jembatan yang baru saja diresmikan.
Camat Kaubun, Saprani menilai keberadaan jembatan tetap membawa dampak signifikan, khususnya dari sisi efisiensi biaya. Ongkos penyeberangan yang sebelumnya harus dibayar warga kini tak lagi ada. “Jembatannya sudah bagus. Tapi masih ada jalan yang perlu perbaikan,” katanya,
Dengan akses jalan yang memadai, didikung keberadaan jembatan penghubung yang kokoh, ia berharap arus distribusi barang semakin lancar dan mampu menekan harga kebutuhan pokok. Jembatan ini juga dipandang strategis sebagai penghubung jalur menuju Berau hingga Kalimantan Utara.
Camat Sangkulirang, Cipto Buntoro menyebut sebelum jembatan berdiri, antrean kendaraan di feri kerap menjadi hambatan utama mobilitas warga dan logistik. Fluktuasi air sungai dan derasnya arus sering memperlambat penyeberangan. “Semoga sisa-sisa pembangunan yang belum tuntas, segera bisa diselesaikan,” ucapnya.
Dari sisi anggaran, pembangunan jembatan rangka baja tipe A90 dan pendekat komposit baja A30 itu menelan biaya sekitar Rp98,36 miliar dan dikerjakan PT Ris Putra Konstruksi, KSO. Pembangunan akses jalan tahap pertama sepanjang 135 meter menghabiskan Rp42,57 miliar, sementara akses 500 meter lainnya menelan Rp135,8 miliar. (rh/mam)



