BERITABONTANG

Kisah Pelajar Buddha di Bontang, “Kalau Seperti Ini Terus, Kami Bisa Habis”

Foto: Anita Sari saat mengajar pelajaran agama Buddha kepada dua anak Rendy Kuncoro, Nathaniel Constantin dan Austin Kovida Kuncoro. (Dok. Pribadi)

Tim Liputan, Bontang

SETAHUN menjadi waktu yang lebih dari cukup bagi Rendy Kuncoro. Dia tidak lagi ingin berkompromi. Segala upaya dilakukan. Agar Nathaniel Constantin, anaknya, bisa mendapat pendidikan agama yang layak.

Rendy sekeluarga merupakan penganut Buddha. Namun, ketiadaan guru agama Buddha membuat anak sulungnya mesti mengikuti pelajaran Hindu di salah satu TK di Bontang, Kalimantan Timur, media 2009.

“Kami terpaksa memilih Hindu, karena itu yang paling dekat dengan (pelajaran) Buddha,” kata Rendy, ditemui di kediamannya pekan kedua Januari 2022.

Tahun pelajaran berikutnya, Rendy memutar otak. Dia tak ingin anak keduanya, Austin Kovida Kuncoro, seperti sang kakak. Pria 43 tahun itu mulai mencari sendiri guru agama untuk anaknya. Lebih dari itu, dia ingin anaknya mendapat pemahaman agama sejak dini.

“Akhirnya saya ketemu. Ternyata ada satu guru Buddha di Bontang. Tapi selama ini dia mengajar mata pelajaran lain,” terangnya. Guru tersebut adalah Anita Sari, dia mengajar pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) di SMA 1 Bontang.

Sulitnya mencari guru Buddha di Bontang, kata Rendy, tak lepas dari sulitnya membangun vihara. Sudah lebih dari dua dekade umat Buddha di kota industriberjuang mendirikan rumah ibadah mereka.

Lahan sudah disiapkan. Terletak di Bukit Kusnodo. Perbatasan Bontang dan Kutai Timur. Bahkan mereka bersedia membangun secara swadaya. Tidak berpangku pada APBD. Terpenting bisa beribadah dengan tenang. Tidak lagi mesti menempuh perjalanan sekira 3 jam ke Samarinda.

Ya, vihara tak  ada di Bontang. Ini ditengarai lantaran posisi umat Buddha di kota ini minoritas. Itu sebabnya, sebagian umat Buddha kemudian menyediakan cetiya, sebuah bilik atau ruang khusus di rumah masing-masing untuk ritual keagamaan sederhana.

Tapi ruang itu hanya bisa digunakan untuk meditasi. Sementara ibadah yang melibatkan umat dalam jumlah lebih besar tidak bisa. Ada sila -aturan- dalam Buddha yang melarang itu. Itu yang menjadi alasan mereka mesti ke Samarinda atau daerah lain yang memiliki vihara.

Rendy sendiri mendirikan cetiya sejak 18 Agustus 2011. Dia bilang, agar jadi cetiya, ruang tersebut mesti diresmikan oleh bikhu, pemuka agama atau guru spiritual dalam Buddha. Penganut Buddha yang berkiblat ke India menyebut pemuka agama mereka bhikkhu. Sementara yang condong ke Tiongkok disebut biksu.

Saban Rabu malam, umat Buddha di Bontang beribadah di tempat itu. Setidaknya ada 5-6 keluarga rutin ikut. Memanfaatkan ruangan sederhana itu, mereka mengampar matras, duduk bersila dengan tenang, dan melakukan pembacaan parrita suci– ayat-ayat suci dalam bahasa pali.

“Februari informasinya akan ada peletakan batu pertama pendirian vihara. Semoga kali ini benar-benar terealisasi,” harapnya.

Dengan berdirinya vihara, mencari pengajar tidak sesulit sekarang. Mengingat tidak sembarang orang bisa menjadi pengajar. Harus yang memang memiliki latar belakang pendidikan khusus Buddha. Atau orang yang ditunjuk dari vihara.

“Kami percaya karma. Kalau apa yang kami sampaikan tidak sesuai, itu akan kembali lagi. Jadi mesti orang-orang yang berkompeten,” tegasnya.

Keberadaan tenaga pengajar juga dirasa bisa membuat eksistensi umat Buddha terjaga. Meski notabene Anita sudah mulai mengajar sejak pertengahan 2010, budhis seperti sudah acuh dengan pelajaran agama di sekolah. Sehingga pasrah jika sang anak menerima pelajaran tidak sesuai dengan keyakinan mereka.

Sebagai minoritas, kata Rendy, sebagian besar juga berpikir untuk tidak menuntut banyak dari sekolah. “Terpenting anak bisa sekolah. Tidak di-bully. Kami ini dobel minoritas, dari agama dan fisik. Jadi mau bagaimana lagi,” tuturnya.

Namun sikap acuh tersebut, menjadi bumerang. Menurut perwakilan Buddha di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bontang itu, kondisi tersebut bisa membuat penganut Buddha berkurang. “Kalau seperti ini terus, kami bisa habis,” ujarnya.

Dari pendataan Rendy, di Bontang terdapat sekira 100 kepala keluarga yang beragama Buddha. “Sebenarnya semua kembali ke orangtua. Kalau tidak bersikeras meminta agar disediakan guru Buddha, maka sulit juga,” pungkasnya.

***

Keinginan Anita Sari menjadi guru terwujud. Dia lolos tes CPNS pada 2009. Dengan penempatan di Bontang. Dengan begitu perempuan murah senyum itu mesti mengemas barang. Meninggalkan Samarinda.

Anita ditugaskan sebagai guru mata pelajaran Buddha. Namun, kewajiban itu urung dilakukan. Tidak ada murid yang bisa diampu. Baru pada pertengahan 2010 dia mengajar. Itupun bukan di sekolah penempatan, yakni SMA 1 Bontang. Melainkan di salah satu TK ternama.

Hingga sekarang, hanya dua orang murid yang diajar. Nathaniel Constantin (15) dan Austin Kovida Kuncoro (16). Dua anak Rendy Kuncoro. Keduanya menimba ilmu di SMA Vidatra. Sekolah itu meminta Anita sebagai guru berkat permintaan Rendy. Di luar itu, Anita mengajar PKWU di SMA 1 Bontang.

“Saya mengajar mereka sejak TK sampai sekarang. Kalau mereka sudah lulus, saya tidak tahu siapa lagi muridnya,” katanya ditemui di SMA 1 Bontang.

Sejatinya, umat Buddha usia sekolah tidak hanya keduanya. Namun, sebagian besar terkesan pasrah tidak menerima pelajaran sesuai keyakinan mereka di sekolah. Ada yang mengikuti pelajaran Hindu atau Kristen.

Dengan kondisi seperti itu, sekolah juga bisa tutup mata. Penilaian tetap dilakukan sesuai dengan seberapa besar pelajar mampu menyelesaikan tugas dan ujian yang diberikan.

“Saya sepakat dengan Koh Ayong (panggilan Rendy). Kepedulian mesti dibangun dari orangtua dulu,” tuturnya.

Anita juga rutin berkomunikasi dengan guru pelajaran Hindu. Sehingga jika ada pelajar Buddha, dia diberitahu. “Pernah di salah satu sekolah negeri, satu semester ada yang ikut pelajaran Hindu. Saat semester 2 saya hubungi, tidak mau ganti pelajaran agama, karena sudah terlanjur ngikut pelajaran Hindu,” kata Anita.

Selain di sekolah umum, pelajar Buddha ada juga yang mengenyam pendidikan di sekolah berbasis agama. Namun, sama dengan sekolah lain, sekolah itu juga tidak menyediakan guru agama lain.

***

Kepala Seksi Bimbingan Islam Kementrian Agama (Kemenag) Bontang Sultani menyebut bahwa menilai, seharusya setiap sekolah wajib memenuhi kebutuhan dari siswanya dengan menyediakan guru agama yang dianut oleh siswa tersebut.

Konstitusi Indonesia, UUD 1945, jelas menegaskan akan jaminan kebebasan beragama, dalam Pasal 28E ayat 1. Ditegaskan bahwa ‘Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.’

“Dalam UU kan sudah jelas diatur, negara menjamin itu. Sekolah seharusnya wajib menyediakan itu (guru agama sesuai kepercayaan),” ungkapnya, Februari lalu.

Sekolah juga mensiasati dengan cara menugaskan siswa belajar dengan pemuka agama. Jika memang sekolah tidak mampu menghadirkan guru pengajar bagi siswa tersebut. “Tapi, kalau harus digabung, ikut belajar dengan agama lain. Dan anak itu beda agama kan enggak nyambung,” paparnya.

“Atau mungkin juga, karena karena sekolah tidak memiliki guru untuk anak itu. Guru takut murid itu keliaran tidak jelas, jadi disuruh duduk mendengarkan saja. Mungkin saja seperti itu, karena tidak tahu pasti bagaimana kondisi sekolah itu,” sambungnya.

Senada, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman, Susilo, mengatakan sekolah harus menyiapkan guru agama yang ada. Apa pun alasannya tidak boleh seorang guru agama tertentu mengajarkan kepada murid yang menganut agama berbeda-beda.

“Salah total. Tentu sisi profesional guru tidak terpenuhi. Makanya harus dipastikan, bahwa seorang guru memiliki bidang studi,” ujarnya.

Susilo mengatakan, misalnya mata pelajaran bahasa Inggris saja, guru harus linier pada bidangnya. Apalagi guru agama yang bisa tentu bisa melanggar norma karena sangat sensitif. Lebih lanjut, lain halnnya dengan guru sekolah dasar yang memang memiliki bidang tematik.

“Bidang tematik ini beberapa mata pelajaran digabung, jadi seorang guru lulusan Bahasa Indonesia Guru Sekolah Dasar (BGSD) bisa mengajarkan beberapa mata pelajaran. Tapi mata pelajaran agama tidak boleh, harus khusus. Apalagi agama gurunya berbeda dengan agama muridnya,” tuturnya.

Susilo juga menganggap wajar jika ada kekhawatiran penganut Buddha semakin sedikit, akibat sikap acuh orangtua dan sekolah. Namun, itu bukan tanpa solusi. FKUB Bontang dapat membangun komunikasi dan dialog agar setiap sekolah menyediakan guru sesuai agama murid.

“Anggaplah sekarang sudah ada gurunya yang khusus, tetapi siswa masih ikut dengan pelajaran agama lain, tentu bisa dibicarakan ke sekolah. Setelah itu komunikasi dengan Dinas Pendidikan yang mempunyai otoritas akan hal ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, sekolah tidak mempunyai alasan untuk tidak menyediakan guru masing-masing agama. Meskipun murid agama tertentu minim dan minoritas, harus mendapat pelajaran sesuai dengan agamanya.

Sementara, Henny Supolo dari Yayasan Cahaya Guru (YCG) menyebut bahwa jika sekolah juga acuh dengan Pendidikan agama pelajar, maka bisa diimbangi oleh orangtua yang peduli. “Tapi kalau orangtua juga acuh agak berat untuk sekolah. Sebab kami (YCG) berpendapat pendidikan agama utamanya dari rumah,” kata Henny.

Secara umum, sebutnya, pendidikan agama merupakan bagian dari tanggung jawab orangtua. Sehingga perlu dibangun komunikasi juga antara anak dan orangtua. “Mengapa anak-anak mereka kurang tertarik pada pelajaran agama sendiri.  Masukan itu penting sekali,” tegasnya.

kekhawatiran semakin tereduksinya penganut Budhha juga perlu diperdalam. Termasuk yang juga perlu diperhatikan adalah situasi yang dihadapi pelajar. “Apakah ada kaitan antara pilihan agama dengan sikap guru dan teman mereka,” pungkasnya.

DIBANTAH DISDIKBUD

Sementara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang membantah jika terdapat sekolah mengajarkan mata pelajaran agama tertentu kepada murid yang berbeda keyakinan.

Kabid Dikdas Disdikbud Bontang Saparuddin menyampaikan, guru setiap agama telah disiapkan. Kata dia, misalnya nonmuslim, dalam satu sekolah jika belum mencukupi jam mengajarnya, guru bersangkutan bisa mengambil beberapa jam pelajaran di sekolah lain. Yang tentunya guru tersebut mengajarkan sesuai mata pelajaran agama masing-masing, alias tidak boleh digabung.

“Enggak ada sih rasanya terjadi. Di mana terjadinya? Setahu saya tidak pernah terjadi,” sebut Saparuddin.

Disdikbud Bontang sendiri tidak mengantongi data siswa yang dikelompokkan berdasarkan masing-masing agama. Namun, berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Bontang, setidaknya 185.199 peserta didik, dan 135 di antaranya penganut Buddha, (selengkapnya lihat infografis).

***

Senyum Rendy Kuncoro tersungging. Keyakinan umat Buddha di Bontang berkembang kembali diapungkan. Peletakan batu pertama pembangunan vihara pada 23 Februari 2022 menjadi penyemangat baru.

“Dengan adanya vihara, kami bisa menyiarkan agama. Termasuk ke anak-anak kami. Mereka bisa mendapatkan pengetahuan agama yang lebih banyak di sini,” katanya.

Vihara itu berdiri di atas lahan perbukitan sekira 3 hektare. Diberi nama Vihara Ñanasamvara, yang berarti pengendalian diri melalui pandangan terang.

***

Liputan/produksi ini menjadi bagian dari program training dan hibah Story Grant: Mengembangkan Ruang Aman Keberagaman di Media oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) yang terlaksana atas dukungan International Media Support (IMS).

Data Peserta Didik Kota Bontang Berdasarkan Agama

Periode Semester I 2021

Islam:                          166.245 orang

Kristen:                       15.223 orang

Katolik:                       3.274 orang

Hindu:                         322 orang

Buddha:                      135 orang

Konghuchu:               –

Aliran Kepercayaan: –

Sumber: Disdukcapil Bontang

Print Friendly, PDF & Email

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }