Geopark Sangkulirang–Mangkalihat Didorong Jadi Geopark Nasional
SANGATTA – Proses pengusulan kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat sebagai Geopark Nasional terus berjalan. Pemerintah daerah saat ini tengah mematangkan dokumen rencana induk serta memperkuat koordinasi lintas sektor sebagai persiapan menghadapi penilaian di tingkat nasional.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kutai Timur, Akhmad Rifanie mengatakan pengusulan kawasan tersebut sebagai Aspiring Geopark Nasional kini memasuki tahap penyempurnaan dokumen sesuai masukan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
“Dokumen ini penting agar seluruh aspek, mulai dari konservasi, edukasi, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan, dapat terintegrasi dengan baik,” katanya saat dikonfirmasi awak media.
Kawasan Sangkulirang–Mangkalihat memiliki luas sekitar 22.398,35 kilometer persegi dan mencakup wilayah Kabupaten Berau dan Kutai Timur. Bentang alam karst ini dikenal memiliki kekayaan geologi, biodiversitas, serta nilai budaya yang tinggi.
Berdasarkan pemetaan, terdapat 26 situs warisan geologi, terdiri dari 15 situs di Berau dan 11 situs di Kutai Timur. Selain itu, kawasan ini juga memiliki 19 situs biodiversitas serta 15 situs keragaman budaya yang menjadi bagian dari penguatan nilai geopark.
Beberapa lokasi di Kutai Timur yang masuk dalam daftar situs geologi antara lain Air Terjun Langga Duae, Air Terjun Tangga Bidadari, Gua Mengkuris, Gua Rimba, serta Liang Tewet yang memiliki lukisan prasejarah.
Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor yang difasilitasi Bappenas, sebelum dilanjutkan dengan verifikasi lapangan oleh Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN) yang ditargetkan berlangsung pada April hingga Juli 2026.
Selain penyempurnaan dokumen, pemerintah daerah juga menyiapkan berbagai langkah pendukung, seperti pembangunan pusat informasi geopark, pemasangan papan informasi di destinasi wisata, hingga pengembangan geoproduk lokal.
Pemerintah berharap seluruh persiapan tersebut dapat mempercepat penetapan Sangkulirang–Mangkalihat sebagai bagian dari jaringan Geopark Nasional Indonesia, sekaligus mendorong pelestarian kawasan karst yang memiliki nilai ekologis, ilmiah, dan budaya.
(rh/mam)



