Bertumpu pada Migas dan IKN, Kaltim Bidik Pertumbuhan 5 Persen pada 2026
Longtime.id – Kalimantan Timur memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen. Namun target tersebut sangat bergantung pada kinerja sektor minyak dan gas serta percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian global yang masih membayangi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan mengungkapkan pada triwulan IV-2025 ekonomi Kaltim tumbuh 5,8 persen (year on year), melonjak dari 4,26 persen pada triwulan sebelumnya. Lonjakan ini menandakan adanya penguatan aktivitas produksi dan investasi menjelang akhir tahun.
Secara struktur, Kaltim masih menjadi tulang punggung ekonomi regional Kalimantan dengan kontribusi 46,02 persen terhadap total perekonomian pulau tersebut. Dominasi ini menempatkan Kaltim sebagai motor utama pergerakan ekonomi kawasan, jauh di atas provinsi lain di Kalimantan.
Memasuki 2026, dua sektor diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan: migas dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Aktivitas konstruksi yang terus berjalan di kawasan Ibu Kota Nusantara mendorong sektor bangunan, jasa, serta perdagangan pendukungnya. Di sisi lain, industri pengolahan migas tetap stabil dengan rencana peningkatan kapasitas kilang yang diproyeksikan menambah produksi hingga 50 ribu barel per hari pada triwulan III-2026.
Eksplorasi sumur gas yang telah dimulai sejak akhir 2025 juga diperkirakan memperkuat rantai industri turunan migas sepanjang tahun berjalan. Namun, ketergantungan pada sektor ekstraktif masih menjadi catatan penting, terutama ketika harga komoditas global berfluktuasi.
Di level nasional, regional Kalimantan menyumbang 8,12 persen terhadap perekonomian Indonesia pada 2025. Meski kontribusinya strategis, tekanan eksternal seperti dinamika pasar keuangan global, geopolitik, serta pergerakan harga batu bara tetap berpotensi memengaruhi kinerja daerah.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah, guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan bergerak dalam rentang 4,9 hingga 5,7 persen,” ucap Jajang, belum lama ini.
Selain faktor pertumbuhan, stabilitas harga menjadi perhatian tersendiri. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebagai penyumbang utama inflasi di Kaltim tahun ini. Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga memberi andil terhadap inflasi Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat perlu dijaga agar ekspansi ekonomi tetap berkualitas.
Bank Indonesia menyatakan akan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung digitalisasi ekonomi. Sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah dinilai krusial untuk memastikan pertumbuhan tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.
Dengan dorongan migas dan percepatan pembangunan IKN, Kaltim diproyeksikan tetap menjadi lokomotif ekonomi Kalimantan pada 2026. Namun, keberhasilan target tersebut sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas harga, mengelola risiko global, serta mempercepat diversifikasi ekonomi di luar sektor ekstraktif. (zak/red)



