Longtime.id – Ketergantungan pada sektor komoditas mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Timur merumuskan strategi baru peningkatan PAD, dari hilirisasi industri hingga pemanfaatan ekonomi hijau berbasis sumber daya alam.
Melalui Bappeda Kutai Timur, pemerintah daerah menggandeng mitra internasional, akademisi, dan pelaku usaha untuk merancang peta jalan ekonomi daerah berbasis lanskap berkelanjutan.
Wakil Bupati Mahyunadi mengatakan Kutai Timur memiliki potensi besar dari sektor perkebunan dan sumber daya alam, namun perlu didorong melalui hilirisasi agar memberi nilai tambah ekonomi. “Kita punya kekayaan alam yang melimpah, dari hutan hingga ekosistem pesisir,” katanya, Kamis (19/02) kemarin.
Pemerintah menargetkan pengembangan industri berbasis sawit dan batu bara dengan menjadikan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan sebagai pusat investasi. Program ini mendapat dukungan kerja sama internasional, antara lain GIZ, SECO, dan BMZ.
Selain industri besar, pemerintah juga mengkaji potensi pajak dari sektor lokal seperti sarang burung walet serta memperkuat permodalan Bank Kutim (BPR) untuk mendorong UMKM.
Pengembangan ekonomi hijau turut menjadi agenda, termasuk peluang perdagangan karbon dan dukungan pendanaan lingkungan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, terutama untuk menjaga kawasan konservasi seperti Taman Nasional Kutai.
Program kolaborasi ini ditargetkan berjalan hingga 2029 dengan tujuan memperkuat kemandirian fiskal daerah dan mengurangi ketergantungan pada sektor komoditas. (rh/sr)



