ODF Pertama, Tapi Sanitasi Kutim Belum Merata
Longtime.id – Kecamatan Rantau Pulung resmi menyandang status Open Defecation Free (ODF) setelah 356 jamban sehat terbangun. Namun di balik capaian itu, fakta lain tak bisa diabaikan, akses sanitasi layak di Kutai Timur (Kutim) masih belum merata, dan tantangan perubahan perilaku belum sepenuhnya selesai.
Meski demikian, status ODF bukan akhir perjalanan. Sanitasi layak tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas, tetapi juga konsistensi pemanfaatan serta pemeliharaan sarana oleh masyarakat. Sepanjang 2025, tercatat 223 unit jamban sehat telah dibangun di sejumlah kecamatan. Tahun ini, Dinas Kesehatan kembali menargetkan 176 unit tambahan.
Jika ditotal, angka tersebut menunjukkan progres. Namun dibanding luas wilayah dan sebaran permukiman Kutim, pembangunan ini masih berlangsung secara bertahap dan memerlukan percepatan agar dampaknya signifikan.
Pemerintah daerah juga mendorong pemasangan tangki septik individual guna memperkuat sistem pengelolaan limbah domestik. Melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, penggunaan bio-septic tank mulai diterapkan, terutama di wilayah pesisir yang rentan pencemaran.
Kadis Kesehatan Kutim, Yuwana Sri Kurniawati menegaskan sanitasi berperan penting dalam menekan risiko stunting. “Infeksi berulang akibat lingkungan yang tidak bersih menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Karena itu, sanitasi yang layak adalah fondasi kesehatan masyarakat,” ujarnya, Jumat (27/02).
Lingkungan yang tidak higienis disebut dapat meningkatkan paparan bakteri dan penyakit berbasis lingkungan. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi tumbuh kembang anak.
Program jamban sehat di Kutim tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga soal perubahan kebiasaan. Edukasi dan pendampingan masyarakat menjadi kunci agar fasilitas yang telah dibangun benar-benar dimanfaatkan.
Tanpa penguatan kesadaran kolektif, status ODF berisiko menjadi capaian administratif semata. Rantau Pulung telah menjadi tonggak awal. Namun pekerjaan besar masih menanti di kecamatan lain yang belum sepenuhnya bebas BABS. (rh/mam)



