Longtime.id – Menjelang Ramadan 2026 dan Imlek, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM). Langkah ini menjadi sinyal bahwa potensi lonjakan harga bahan pokok tak bisa lagi diabaikan.
Bahan pokok yang dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kebutuhan akan pangan terjangkau menjelang hari besar keagamaan.
“GPM dilaksanakan serentak secara nasional untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan pasokan, terutama komoditas utama yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Himawan, Jumat (13/02) kemarin.
Menurutnya, momentum Ramadan dan Imlek kerap diikuti lonjakan permintaan bahan pangan yang berpotensi mendorong kenaikan harga. Karena itu, intervensi pasar dinilai perlu untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan.
Dalam pelaksanaannya, GPM melibatkan sedikitnya 55 partisipan yang terdiri dari pelaku UMKM, BUMN, BUMD, serta Perum Bulog. Perwakilan kabupaten/kota se-Kaltim turut ambil bagian, termasuk Kota Bontang. Secara keseluruhan, kegiatan ini digelar di enam kabupaten/kota di Kaltim, dengan sebagian titik telah berlangsung pada 11–12 Februari dan sisanya dilaksanakan serentak pada 13 Februari.
Berbagai komoditas dijual dalam program ini, mulai dari beras, gula pasir, minyak goreng, telur, tepung terigu, ikan, cabai, bawang, hingga kebutuhan pokok lainnya dengan harga subsidi atau di bawah harga pasar.
Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi daerah. Namun, efektivitasnya dalam menahan gejolak harga jangka panjang tetap bergantung pada distribusi pasokan dan pengawasan pasar setelah kegiatan usai. (zak/mam)



