Kencang77smm panel murahKencang77 Heylinkprediksi togel akuratprediksi togel kencang77prediksi togel terbarupengeluaran togelhttps://www.zeverix.comsmm murahsmm indonesiasmm panelsmm terpercayasmm internasionalslot gacorslot onlineslot gacor hari inikencang77smm panel termurahsmm panel terbaikreseller smm panelsmm panel indonesiaKENCANG77kencang77kencang77 daftarkencang77 loginBerita 26001Berita 26002Berita 26003Berita 26004Berita 26005Berita 26006Berita 26007Berita 26008Berita 26009Berita 26010Berita 26011Berita 26012Berita 26013Berita 26014Berita 26015Berita 26016Berita 26017Berita 26018Berita 26019Berita 26020Berita 26021Berita 26022Berita 26023Berita 26024Berita 26025Berita 26026Berita 26027Berita 26028Berita 26029Berita 26030Berita Asia 0001Berita Asia 0002Berita Asia 0003Berita Asia 0004Berita Asia 0005Berita Asia 0006Berita Asia 0007Berita Asia 0008Berita Asia 0009Berita Asia 0010Berita Asia 0011Berita Asia 0012Berita Asia 0013Berita Asia 0014Berita Asia 0015Berita Asia 0016Berita Asia 0017Berita Asia 0018Berita Asia 0019Berita Asia 0020Berita Asia 0021Berita Asia 0022Berita Asia 0023Berita Asia 0024Berita Asia 0025Berita Asia 0026Berita Asia 0027Berita Asia 0028Berita Asia 0029Berita Asia 0030Berita 680151Berita 680152Berita 680153Berita 680154Berita 680155Berita 680156Berita 680157Berita 680158Berita 680159Berita 680160Berita 680161Berita 680162Berita 680163Berita 680164Berita 680165Berita 680166Berita 680167Berita 680168Berita 680169Berita 680170Berita Alifa Indonesia 26031Berita Alifa Indonesia 26032Berita Alifa Indonesia 26033Berita Alifa Indonesia 26034Berita Alifa Indonesia 26035Berita Alifa Indonesia 26036Berita Alifa Indonesia 26037Berita Alifa Indonesia 26038Berita Alifa Indonesia 26039Berita Alifa Indonesia 26040Berita Alifa Indonesia 26041Berita Alifa Indonesia 26042Berita Alifa Indonesia 26043Berita Alifa Indonesia 26044Berita Alifa Indonesia 26045Berita Alifa Indonesia 26046Berita Alifa Indonesia 26047Berita Alifa Indonesia 26048Berita Alifa Indonesia 26049Berita Alifa Indonesia 26050Berita Alifa Indonesia 26051Berita Alifa Indonesia 26052Berita Alifa Indonesia 26053Berita Alifa Indonesia 26054Berita Alifa Indonesia 26055Berita Alifa Indonesia 26056Berita Alifa Indonesia 26057Berita Alifa Indonesia 26058Berita Alifa Indonesia 26059Berita Alifa Indonesia 26060Berita Harian 8990001Berita Harian 8990002Berita Harian 8990003Berita Harian 8990004Berita Harian 8990005Berita Harian 8990006Berita Harian 8990007Berita Harian 8990008Berita Harian 8990009Berita Harian 8990010Berita Harian 8990011Berita Harian 8990012Berita Harian 8990013Berita Harian 8990014Berita Harian 8990015Berita Harian 8990016Berita Harian 8990017Berita Harian 8990018Berita Harian 8990019Berita Harian 8990020Berita Harian 8990021Berita Harian 8990022Berita Harian 8990023Berita Harian 8990024Berita Harian 8990025Berita Harian 8990026Berita Harian 8990027Berita Harian 8990028Berita Harian 8990029Berita Harian 8990030Berita Harian 8990031Berita Harian 8990032Berita Harian 8990033Berita Harian 8990034Berita Harian 8990035Berita Harian 8990036Berita Harian 8990037Berita Harian 8990038Berita Harian 8990039Berita Harian 8990040Berita Harian 8990041Berita Harian 8990042Berita Harian 8990043Berita Harian 8990044Berita Harian 8990045Berita Harian 8990046Berita Harian 8990047Berita Harian 8990048Berita Harian 8990049Berita Harian 8990050News OJS 680171News OJS 680172News OJS 680173News OJS 680174News OJS 680175News OJS 680176News OJS 680177News OJS 680178News OJS 680179News OJS 680180News OJS 680181News OJS 680182News OJS 680183News OJS 680184News OJS 680185News OJS 680186News OJS 680187News OJS 680188News OJS 680189News OJS 680190News OJS 680191News OJS 680192News OJS 680193News OJS 680194News OJS 680195News OJS 680196News OJS 680197News OJS 680198News OJS 680199News OJS 680200Berita UMKM 89001Berita UMKM 89002Berita UMKM 89003Berita UMKM 89004Berita UMKM 89005Berita UMKM 89006Berita UMKM 89007Berita UMKM 89008Berita UMKM 89009Berita UMKM 89010Berita UMKM 89011Berita UMKM 89012Berita UMKM 89013Berita UMKM 89014Berita UMKM 89015Berita UMKM 89016Berita UMKM 89017Berita UMKM 89018Berita UMKM 89019Berita UMKM 89020Berita UMKM 89021Berita UMKM 89022Berita UMKM 89023Berita UMKM 89024Berita UMKM 89025Berita UMKM 89026Berita UMKM 89027Berita UMKM 89028Berita UMKM 89029Berita UMKM 89030Berita UMKM 89031Berita UMKM 89032Berita UMKM 89033Berita UMKM 89034Berita UMKM 89035Berita UMKM 89036Berita UMKM 89037Berita UMKM 89038Berita UMKM 89039Berita UMKM 89040Berita Tegal 899001Berita Tegal 899002Berita Tegal 899003Berita Tegal 899004Berita Tegal 899005Berita Tegal 899006Berita Tegal 899007Berita Tegal 899008Berita Tegal 899009Berita Tegal 899010Berita Tegal 899011Berita Tegal 899012Berita Tegal 899013Berita Tegal 899014Berita Tegal 899015Berita Tegal 899016Berita Tegal 899017Berita Tegal 899018Berita Tegal 899019Berita Tegal 899020Berita Tegal 899021Berita Tegal 899022Berita Tegal 899023Berita Tegal 899024Berita Tegal 899025Berita Tegal 899026Berita Tegal 899027Berita Tegal 899028Berita Tegal 899029Berita Tegal 899030Berita Tegal 899031Berita Tegal 899032Berita Tegal 899033Berita Tegal 899034Berita Tegal 899035Berita Tegal 899036Berita Tegal 899037Berita Tegal 899038Berita Tegal 899039Berita Tegal 899040Berita Asia 0031Berita Asia 0032Berita Asia 0033Berita Asia 0034Berita Asia 0035Berita Asia 0036Berita Asia 0037Berita Asia 0038Berita Asia 0039Berita Asia 0040Berita Asia 0041Berita Asia 0042Berita Asia 0043Berita Asia 0044Berita Asia 0045Berita Asia 0046Berita Asia 0047Berita Asia 0048Berita Asia 0049Berita Asia 0050Berita Asia 0051Berita Asia 0052Berita Asia 0053Berita Asia 0054Berita Asia 0055Berita Asia 0056Berita Asia 0057Berita Asia 0058Berita Asia 0059Berita Asia 0060News 9001News 9002News 9003News 9004News 9005News 9006News 9007News 9008News 9009News 9010News 9011News 9012News 9013News 9014News 9015News 9016News 9017News 9018News 9019News 9020Berita 1001Berita 1002Berita 1003Berita 1004Berita 1005Berita 1006Berita 1007Berita 1008Berita 1009Berita 1010Berita 1011Berita 1012Berita 1013Berita 1014Berita 1015Berita 1016Berita 1017Berita 1018Berita 1019Berita 1020Berita Update 0001Berita Update 0002Berita Update 0003Berita Update 0004Berita Update 0005Berita Update 0006Berita Update 0007Berita Update 0008Berita Update 0009Berita Update 0010Berita Update 0011Berita Update 0012Berita Update 0013Berita Update 0014Berita Update 0015Berita Update 0016Berita Update 0017Berita Update 0018Berita Update 0019Berita Update 0020Berita 0001Berita 0002Berita 0003Berita 0004Berita 0005Berita 0006Berita 0007Berita 0008Berita 0009Berita 0010Berita 0011Berita 0012Berita 0013Berita 0014Berita 0015
BERITANASIONALPPU

Tanaman Herbal Suku Balik Diambang Punah, Imbas Pembangunan IKN

Oleh: Lutfi Rahmatunnisa’

Eksistensi tanaman herbal yang menjadi andalan masyarakat adat Suku Balik sebagai alternatif obat tradisional di sekitar Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur diambang punah akibat menghadapi pembukaan lahan secara besar-besaran dalam pembangunan IKN.

Ibud perlahan menarik parang kecil berbungkus kayu jati yang sedari tadi ia lingkarkan di pinggulnya. Dengan parang itu, tangannya mengayun ke kanan dan ke kiri menebas tanaman liar menjalar yang menghalangi jalannya.

Usianya tak lagi muda, namun kedua kakinya masih menyimpan banyak energi untuk melakukan perjalanan, menapaki tanah perkebunan dari satu lahan ke lahan lain milik warga sekitar. Mencari dua tanaman herbal yakni jemelai dan daun sembung, kata Ibud bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sebab keberadaannya kini dirasa semakin sulit dijumpai.

Selain kaki, ibud mengandalkan matanya yang tajam untuk menyisir dua tanaman herbal di setiap menapaki lahan perkebunan warga. Panasnya terik matahari siang itu amat menyengat, namun tidak menyurutkan semangat Ibud mencari jemelai juga daun sembung.

“Aduh, sekarang susah minta ampun dapat jemelai sama daun sembung,” keluhnya saat dijumpai pertengahan Januari 2024 lalu.

Ibud ialah satu dari sekian banyak perempuan adat Suku Balik yang terkenal di wilayahnya masih menggunakan daun sembung dan jemelai sebagai obat tradisional di lingkungan keluarganya. Wanita berusia 56 tahun yang akrab disapa Julak Ibud itu bermukim di Kelurahan Pemaluan, Kecamatan Sepaku. Salah satu kelurahan yang masuk dalam kawasan inti IKN.

Butuh waktu perjalanan hampir 1,5 jam lamanya untuk menemukan kedua tanaman herbal itu. Beruntung, tepat di menit ke 46 akhirnya Ibud menemukan jemelai di salah satu lahan perkebunan milik warga. Jemelai sendiri ialah tanaman rimpang yang berkembangbiak dengan cara rizoma. Serumpun dengan tanaman herbal lainnya seperti jahe, kencur, ataupun kunyit.

Jemelai sendiri memiliki kesamaan dengan jahe putih. Yakni sama-sama memiliki daging berwarna putih. Perbedaannya terletak pada ukuran dan aroma. Jemelai berukuran lebih besar dari jahe putih normal. Pun, jemelai memiliki aroma yang khas, tidak menyengat seperti jahe putih.

Berbeda dengan jemelai, untuk mendapatkan daun sembung Ibud harus melewati perkebunan sawit warga sekitar. Setidaknya Ibud membutuhkan waktu perjalanan sekira satu jam dari lokasi jemelai. Itupun, daun jemelai yang ditemukan hanya tumbuh satu pohon di lahan perkebunan warga.

Di zaman serba modern seperti saat ini, layanan medis kian mudah diakses, tetapi cara tradisional masih menjadi tumpuan pengobatan masyarakat adat Suku Balik. Istilahnya, sekecil apa pun pil obat sulit ditelan, tetapi biji luwing yang besar pun tetap masuk lewat tenggorokan. Istilah itu dapat diartikan bahwa masyarakat adat masih bersandar pada pengobatan tradisional.

Berbekal pengetahuan resep nenek moyang secara turun temurun, Ibud menguasai pengolahan tanaman herbal liar yang banyak tumbuh di wilayahnya. Meski begitu, paling sering ia gunakan ialah jemelai dan daun sembung. Ibud percaya, jemelai dan daun sembung mengandung beragam khasiat. Diantaranya dapat meredakan nyeri sendi dan otot, menurunkan demam, flu, batuk, maupun asma.

Jemelai sendiri digunakan untuk meringankan flu ataupun batuk. Jemalai dimanfaatkan hanya sebagai obat luar alias tidak dikonsumsi sebagai minuman herbal. Cara penggunaan jemelai mulanya dihaluskan kemudian ditempelkan di dahi secukupnya. Waktu terbaik menggunakan jemelai, kata Ibud ialah saat menjelang tidur malam.

“Pas jemelai ditempelkan di dahi akan mengeluarkan efek hangat gitu. Jadi pas bangun tidur sudah enakan. Enggak flu ataupun batuk lagi,” ungkapnya.

Kemudian, daun sembung memiliki nama latin bulumea balsamifera. ia mempunyai daun berwarna hijau, lebar dan juga berbulu. Tidak hanya itu, daun sembung memiliki bunga kecil berwarna kuning ataupun putih. Satu pohon daun sembung meimiliki tinggi mulai 60 cm – 70 cm.

Ada dua versi untuk memanfaatkan daun sembung. Yang pertama dengan merebus beberapa lembar daun sembung dengan air kemudian diminum air rebusannya secara rutin selama demam ataupun asma. Sebab rasanya yang pahit, ibud menyarankan untuk mencampurkan air rebusan daun sembung dengan madu sebagai penawarnya. Jika penyakit tersebut menimpa bayi, maka daun sembung ditumbuk kemudian diletakkan di dahi bayi. Tujuannya untuk menurunkan demam.

Sedangkan cara penggunaan kedua dikhususkan untuk menangani flu dan batuk. Caranya beberapa lembar daun sembung cukup diremas lalu dicampurkan dengan air yang berada di bak mandi. Dengan begitu khasiat daun sembung akan tercampur dengan air.

“Atas ijin dari yang maha kuasa apapun penyakitnya akan hilang. Tidak hanya saya ataupun anak cucu saya, dari jaman orang tua sebelum-sebelum saya juga sudah pakai itu (jemelai dan daun sembung),” timpalnya.

Populasi jemelai dan daun sembung makin sulit dijumpai

Sebagian besar hidup Ibud ia habiskan dengan berkebun. Menanam umbi-umbian hingga sayur-mayur yang merupakan bahan pokok untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.  Ia lahir dan besar di Kelurahan Pemaluan. Hampir setiap sudut desa ataupun seluk hutan yang berada di Kecamatan Sepaku ia paham betul kondisinya.

Berdasarkan pengalamannya, jemelai dan daun sembung tumbuh dengan sendirinya alias tidak ditanam secara sengaja. Daun sembung dan jemelai tumbuh secara liar bersanding diantara tanaman hortikultura yang ditanam oleh petani. Pun, tumbuhnya jemelai dan daun sembung tidak tumbuh secara berkelompok namun berjarak antara pohon satu dengan pohon lainnya.

“Asalkan ada tanah subur daun sembung sama jemelai pasti tumbuh. Tapi sekali tumbuh tidak langsung banyak. Kadang cuman se pohon aja. Apalagi kalau musim hujan, makin susah didapat,” paparnya.

Dulu, sebelum IKN hadir, Ibud bilang keberadaan dua tanaman herbal tersebut memang mulai sulit dijumpai. Dia menduga sulitnya mendapatkan daun sembung dan jemelai bermula saat hutan di Penajam Pasar Utara mulai terdegradasi dengan hadirnya PT. Internasional Timber Corporation Indonesia [ITCI] pada 1970-an.

“Perubahannya sangat terasa. Hampir semua warga di sini tahu, kalau setiap tahun perusahaan memperluas lahan. Soalnya banyak warga yang mengeluh karena lahan mereka diambil alih ITCI. Dari situ saya juga sadar kalau jemelai dan daun sembung sulit ditemui,” jelasnya.

Kemudian, secara perlahan Ibud merasa populasi jemelai dan daun sembung yang biasa ia dapat di sepanjang perkebunan maupun hutan makin menyusut di saat kondisi hutan di Penajam Paser Utara diperparah dengan kehadirian IKN sebagai proyek ambisius pemerintah sejak 2020 lalu.

Masifnya pembangunan IKN dengan membuka lahan secara besar-besarana di setiap tahunnya membuat hutan di sekitar permukiman warga mulai banyak yang gundul. Sehingga tidak lagi menyediakan tanaman herbal dalam jumlah banyak. Akibat kondisi tersebut, sebagian besar masyarakat adat Suku Balik beralih menggunakan obat bebas yang dijual di warung.  

“Hadirnya perusahaan itu di PPU memang membuat jemelai dan daun sembung agak susah didapat. Tapi, kalau ke hutan atau belakang rumah pasti ketemu. Sekarang kalau di belakang rumah ataupun kebun mana ada lagi semenjak ada IKN,” keluhnya.

Disebutkan Ibud, faktor lain penyebab populasi jemelai dan daun sembung diambang punah adalah sulitnya mengembangbiakkan di pekarangan rumah. Baik itu ditanam langsung di tanah atapun menggunakan media pot. Ibud dan juga perempuan adat Suku Balik lainnya pernah mencoba beberapa kali, namun gagal. Sehari setelah dipindahkan dari tanah asalnya, baik jemelai ataupun daun sembung langsung menguning lalu mati.

Itu sebabnya, Ibud dan perempuan adat Suku Balik lainnya rela mencari jemelai dan daun sembung di kebun warga ataupun hutan yang jauh dari permukiman. Tak hanya itu, banyaknya perkebunan warga yang semula dimanfaatkan sebagai tanaman pertanian kini beralih menjadi perkebunan sawit membuat dua tanaman herbal tersebut semakin sulit dijumpai.

“Mungkin karena tumbuh liar jadi susah mau dikembangkan sendiri. Bibitnya pernah kita coba untuk ditanam dari awal. Tapi selalu gagal. Padahal kami rawat seperti tanaman pada umumnya. Nah, dari situ kami tidak ada niat untuk mengembangkan lagi,” urainya.

Tidak adanya generasi muda penerus pemanfaatan tanaman herbal seperti jemelai dan daun sembung yang kerap dikonsumsi masyarakat adat Suku Balik membuat keresahan tersendiri bagi Ibud. Dengan begitu, pengetahuan warisan leluhur secara tidak langsung akan terputus.

“Mungkin karena beda zaman. Jadi anak zaman sekarang banyak yang nggak tahu bentuk tanaman herbal yang sering dikonsumi masyarakat adat itu sendiri. Pasti lama-lama bakal terlupakan,” sebut Ibud.

Selain jemelai dan daun sembung beberapa tanaman herbal Suku Balik lainnya yang populasinya nyaris punah ialah sebagai berikut :

(Berada di halaman akhir)

Upaya Pelestarian jemelai dan daun sembung

Menurunnya populasi jemelai dan daun sembung juga disadari Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara [AMAN] Kalimantan Timur dari Kelurahan Pemaluan Elysnawati. Kondisi tersebut ia sadari lantaran secara turun temurun keluarganya masih menggunakan jemelai dan daun sembung sebagai obat tradisional.

“Beberapa tahun terakhir ini memang terasa agak susah liat dua tanaman itu. Saya ngéh karena masih sering memanfaatkan tanaman itu,” ucap Elys.

Agar jemelai dan daun sembung tidak punah, wanita yang juga menjadi salah satu perempuan adat Suku Balik itu berencana membudidayakannya dengan membangun kebun kolektif tanaman herbal.

Untuk itu, Elys mulai menggerakan perempuan masyarakat adat Suku Balik lainnya dengan mengelola sebuah lahan menjadi kebun kolektif. Nantinya di kebun kolektif itu ditanami berbagai jenis tanaman herbal masyarakat adat Suku Balik. Kata Elys, bukan perkara mudah menyatukan suara perempuan adat Suku Balik yang berada di Kelurahan Pemaluan. Sebab, perempuan adat Suku Balik di sana mayoritas berusia lanjut.

“Itu tantangan buat saya. Kebanyakan dari mereka itu sudah sepuh, dan punya kesibukan lain. Tapi setelah saya berbincang dengan mereka, alhamdulillah banyak yang tergerak. Kalau tidak begitu anak cucu kami tidak akan tau khasiat tanaman warisan leluhur,” bebernya.

Persoalan lain yang dihadapi Elys dalam melestarikan jemelai, daun sembung dan tanaman herbal lainnya dalam bingkai kebun kolektif ialah lahan. Dua tanaman tersebut jelas sangat sulit untuk dibudidayakan. Lantaran tumbuh liar. Itu sebabnya dibutuhkan lahan yang masih ditumbuhi oleh dua tanaman itu. Mulanya, Elys mengajukan lahan perkebenunan yang dikelola orang tuanya sebagai lokasi kebun kolektif.

Jauhnya jarak tempuh yang lokasinya berada di luar Kelurahan Pemaluan menjadi pertimbangan tersendiri. Beruntung, salah satu perempuan adat Suku Balik mengajukan lahan perkembunannya seluas satu hektare untuk dikelola sebagai kebun kolektif.

“Kalau lokasinya jauh kasihan juga. Mau nggak mau harus mikirin akomodasinya.  Alhamdulillah, salah satu perempuan adat di Kelurahan Pemaluan ada yang bersedia lahannya dikelola,” timpalnya.

Gerakan pelestarian tanaman herbal dengan cara membuat kebun koletif mendapat dukungan penuh dari Jubain. Ia adalah Ketua Adat Suku Balik di Kelurahan Pemaluan. Menurutnya, gagasan tersebut adalah Langkah tepat agar budaya dan tradisi Suku Balik tetap lestari.  

Jubain merasa bersyukur lantaran masih ada generasi muda suku Balik yang peduli terhadap budaya yang diwariskan leluhur. Kendati dia menyadari perbedaan generasi menyebabkan anak-anak muda Suku Balik kurang memperhatikan tradisi dan cenderung mengikuti budaya kekinian. Padahal mereka punya peran penting dalam melestarikan warisan budaya adat Suku Balik.

Di samping itu, Jubain juga merasa cemas tentang dampak dari pembangunan IKN. Dengan banyaknya pendatang yang nantinya bakal bermukim di wilayah tersebut, secara tidak langsung budaya dan kearifan lokal Suku Balik bisa terkikis lalu hilang. Jubain berharap pemerintah membantu merawat pemukiman adat mereka dan memberikan dukungan dalam hal perlindungan, pembinaan, maupun pendidikan.

“Tentu gagasan itu saya sambut dengan senang hati dan saya dukung. Soalnya memang sulit didapat jemelai dan daun sembung sekarang itu. Termasuk di hutan sekitar permukiman. Dampaknya bagus karena bisa kita kenalkan kepada generasi selanjutnya,” tuturnya.

Lamban tapi pasti, meski Jubain dan perempuan adat Suku Balik mendapatkan solusi atas persoalan tanaman herbal yang terancam punah. Ia khawatir kondisi tersebut tidak akan bertahan lama tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Kedepannya, ia berencana untuk menggalang dukungan kepada pemerintah setempat.

“Lahan warga saja banyak yang ikut kena dampaknya oleh kehadiran IKN dan perusahaan. Jadi, kalau pemerintah tidak ikut serta hadir, saya khawatir kebun kolektif tidak bertahan lama,” kata Jubain.

Lunturnya identitas Suku Balik

Presiden Joko Widodo menggagas proyek IKN pada Agustus 2019. Proyek yang terkesan terburu-buru itu disebut-sebut tanpa konsultasi secara adil dengan warga. Kemudian, pada Maret 2022 Presiden Jokowi meresmikan titik nol kilometer IKN di Kecamatan Sepaku.

Cakupan wilayah IKN terdiri dari wilayah darat dan laut. Wilayah darat memiliki luas kurang lebih 256.142 hektar. Sementara wilayah perairan laut seluas kurang lebih 68.189 hektar. Wilayah darat IKN nantinya terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan IKN dengan luas kurang lebih 56.180 hektar yang akan menjadi kawasan inti pusat IKN. Sementara pembangunan kawasan pengembangan seluas kurang lebih 199.962 hektar.

Di Kecamatan Sepaku itu sendiri, Jubain bilang Suku Balik tersebar di beberapa kelurahan. Diantaranya, Kelurahan Sepaku, Mentawir, Maridan, dan Pemaluan. Suku Balik kerap kali disamakan dengan Suku Paser (sub etnis Dayak) yang juga bermukim di PPU. Padahal, keduanya memiliki perbedaan. Dialek Bahasa salah satunya. Jika dilihat dari bahasa, dialek bicara yang digunakan Suku Paser dapat dimengerti Suku Balik, sebaliknya Bahasa Suku Balik tidak dimengerti suku lain.

“Di PPU itu sebenarnya banyak suku. Mungkin karena logat kami terdengar mirip makanya sering dikira sama,” timpalnya.

Masyarakat Adat Suku Balik di Kawasan IKN adalah komunitas kecil yang memiliki mata pencarian dan praktik tradisional. Semuanya berkaitan erat dengan wilayah adat. Dalam aktivitas kesehariannya, masyarakat Suku Balik saat ini tidak banyak yang berkebun, bertani, maupun berburu. Lantaran hutan sebagai sumber kehidupan masyarakat Suku Balik sudah banyak yang terdegradasi. Baik itu diakibatkan masuknya perusahaan ataupun untuk pembangunan IKN.

Masuknya beberapa perusahaan di tanah adat, secara tidak langsung mengubah struktur fisik wilayah sekitar. Luas ladang dan hutan dikelola bersama sebagai milik komunal masyarakat adat. Namun, nilai jual tanah memicu pergeseran paradigma, mengubah ladang menjadi hak individu.

Kini, ladang komunal masih tersisa dan bekas ladang yang telah beralih kepemilikan menjadi simbol perubahan. Di balik megahnya pembangunan industri, masyarakat adat sekadar menjadi buruh harian lepas di perusahaan-perusahaan yang menjamur di tanah adat mereka.

Dengan kondisi itu, Jubain bilang masyarakat adat Suku Balik yang berada di kawasan IKN merasa terancam keberadaanya menyusul tidak adanya aturan tegas yang dapat melindungi hak-hak masyarakat adat Suku Balik.

“Nggak hanya tanaman herbal saja yang hilang sebagai identitas budaya. Tetapi mata pencarian maupun lainnya,” serunya.

Kondisi masyarakat adat Suku Balik saat ini adalah cerminan dari kompleksitas pembangunan proyek besar seperti IKN. Di satu sisi, proyek ini diharapkan membawa perubahan positif, tetapi di sisi lain, dampaknya terhadap masyarakat lokal sering kali tidak diantisipasi dengan baik.

Tanaman herbal menjadi satu dari sekian banyak persoalan yang muncul menjadi dampak pembangunan IKN. Hal itu sempat menjadi topik pembahasan antar kepala adat di setiap kelurahan. Dari situlah muncul komitmen untuk tetap melestarikan warisan leluhur masyarakat adat Suku Balik.

“Pembangunan IKN di Kecamatan Sepaku menjadi penyumbang terbesar menurunnya populasi jemelai dan daun sembung secara drastis, mengiringi banyak nya perusahaan yang beroperasi di tanah adat. Semoga niat kami melestarikan budaya mendapat restu pemerintah,” jelasnya.

Meski tak memiliki data persis, Jubain memprediksi jumlah masyarakat adat Suku Balik di Kecamatan Sepaku saat ini hanya 1.000-an orang. Jumlah tersebut terbilang sedikit sebab masyarakat pendatang di Kecamatan Sepaku semakin bertambah sejak tahun 1990-an. Kedatangan para transmigran di Kecamatan Sepaku menurut Jubain mempengaruhi gaya hidup maupun budaya asli Suku Balik.

Namun, jika mengutip data lembaga pemetaan wilayah-wilayah adat di Indonesia, yakni Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), lanskap Benuo Paser Balik Pemaluan (sebutan untuk wilayah adat Balik di Pemaluan) terdiri dari dataran, pesisir, dan bahari dengan luas 28.875 hektare. Sedangkan total penduduknya mencapai 7.431 jiwa.

Tanaman herbal Suku Balik wajib dilindungi pemerintah

Akademisi Sekaligus Ketua Pusat Studi Hak Kekayaan Intelektual Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Emilda Kuspraningrum mengatakan dalam perspektif hukum tanaman herbal seperti jemelai dan daun sembung itu memiliki perlindungangan hukum, yakni pada PP 56 tahun 2022 tentang Kekayaan intelektual komunal. Setidaknya kekayaan intelektual komunal (KIK) terdiri dari 4 hal. Ialah ekspresi budaya tradisional, pengetahuan tradisional, indikasi geografis, dan sumber daya genetik. 

Ia tidak memungkiri bahwa tanaman herbal masyarakat adat Suku Balik terancam punah akibat pembangunan IKN. Sepanjang pengamatannya, tidak hanya sumber daya genetik (dalam hal ini tanaman obat) yang ikut menghilang, termasuk juga budaya penggunaan dan pengolahan tanaman obat.

Hasil penelitiannya di lapangan menjelaskan, bahwa penyebab hal-hal yang dulu mereka kuasai dan yakini sebagai salah satu metode untuk mencari solusi dalam penyembuhan kini hilang adalah masyarakat saat ini sudah tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang bersifat tradisional. Justru mereka cenderung pragmatis memilih jalan yang lebih cepat, mencari pekerjaan yg cepat mendapatkan hasil dan membelanjakan apa yang diinginkan dengan cepat pula (dibanding harus mencari sumber daya genetik di hutan dan mengolahnya).

“Mencari pekerjaan yang jauh lebih mudah salah satunya adalah bekerja sebagai buruh sawit pada masa berdirinya Perusahaan sawit saat itu dan kini menjadi buruh pembangunan IKN,” kata Emilda.

Adapun, untuk KIK yang dikonsumsi masyarakat adat Suku Balik, wajib hukumnya bagi pemerintah daerah setempat untuk melakukan pendataan, dan perlindungan.

Namun, hasil lapangan menunjukan bahwa hal tersebut belum dilakukan oleh pemda setempat.

“Semestinya sebelum pembangunan IKN seperti saat ini, perlu dilakukan pendataan mengenai kekayaan intelektual komunal masyarakat setempat. Kalaupun ada didalam data direktoral jendral KI prosentasenya masih sangat kecil. Pendataan ini sangat penting untuk memaping apa saja potensi masyarakat setempat yang bisa dikembangkan, seiring dengan perkembangan pembangunan IKN,” tegasnya.

Akibat tidak adanya perlindungan dari pemda setempat, kata Emilda tidak menutup kemungkinan jika kedepannya tanaman herbal masyarakat adat bakal tergerus habis akibat masifnya pembangunan IKN. Sebaliknya, jika pemda melakukan pendataan, memberikan perlindungan, serta mengelola dengan baik dan benar kepada mayarakat adat yang masih mencari tanaman herbal di hutan, meracik tanaman herbal, menjalankan pengobatan, dan sebagainya maka akan mendatangkan banyak hal positif bagi masyarakat adat. Kesejahteraan ekonomi salah satunya.

“Sebagai akademisi kami sangat mendorong pemda untuk melakukan pendataan di masyarakat terkait tanaman herbal apa saja yang terancam punah. Bahkan saya masih melakukan penelitian terkait kekayaan intelektual komunal di Kaltim. Termasuk PPU agar masyarakat adat tetap bisa menjaga budayanya,” urainya.

Menyusutnya populasi tanaman herbal di Kawasan IKN, juga mendapat perhatian dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Timur. Direktur Eksekutif Walhi Kaltim Fathur Roziqin Fen mengatakan bahwa analisis linimasa tentang perubahan tutupan hutan dan lahan pada kawasan tersebut akan mendekatkan setidaknya dua temuan mendasar. Pertama hilangnya keanekaragaman hayati dan kedua berubahnya corak ekonomi-produksi masyarakat di sekitar.

Menurutnya, situasi tersebut terjadi sejak puluhan tahun lalu dengan sejumlah ijin ekstraktif, baik perkebunan monokultur, tambang dan terbitnya ijin kehutanan, baik itu hutan alam, monokultur dan lainnya (seperti; Acacia mangium dan Eucalyptus sp) telah menambah beban ekologis pada bentang alam Sepaku hingga ekosistem teluk Balikpapan.

“Valuasi ekonomi masyarakat ini dapat dilihat pada DAS (Daerah Aliran Sungai) Sepaku hingga kawasan hilirnya pada Ekosistem Teluk Balikpapan. Maka, mega infrastruktur ibukota negara menambah beban berlapis selanjutnya. Pada kondisi terkini, pemerintah terbukti mengabaikan hak ekosob (ekonomi sosial dan budaya) masyarakat,” urainya.

Agar keanekaragaman hayati bisa terus berkembang, pihaknya mendorong pemerintah melakukan dua hal. Pertama, dalam pendekatan landscape pemerintah harus mereview dan mengaudit seluruh perijinan yang berada pada kawasan hulu, sehingga dapat memastikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kedua, pemerintah harus mengakui dan melindungi wilayah  adat dan wilayah kelola mereka.

“Karena itu prasyarat dasar untuk memastikan keberlanjutan ekosistem dan ekologis Kawasan,” tutupnya.

NoGambarNama TanamanManfaat
1  JemelaiMeringankan flu dan batuk
2 
NdinganPereda panas dalam
3
 
JabungTumbuhan sayur yang biasa dikonsumsi masyarakat Adat Paser dan Suku Balik
4 
Daun SembungMenurunkan demam, meringankan asma, flu, dan batuk.
5 
Nyulikrokot BotoMampu menutup luka setelah melahirkan dan mengurangi bau anyir darah wanita melahirkan
6  Daun LembonuPenghilang amis ikan
7Gambar belum ditemukanDaun Penumbu DagingMenyembuhkan berbagai luka luar dan penumbuh rambut
8Gambar belum ditemukanDaun Sugimengurangi bau anyir darah wanita melahirkan
9Gambar belum ditemukanDaun Temboramengurangi bau anyir darah wanita melahirkan
10Gambar belum ditemukanDaun GelinggangObat panu dan kurap

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
@media print { .stream-item-above-post } }
content-ciaa-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

maujp

maujp

sabung ayam online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

slot mahjong

118000556

118000557

118000558

118000559

118000560

118000561

118000562

118000563

118000564

118000565

118000566

118000567

118000568

118000569

118000570

118000571

118000572

118000573

118000574

118000575

118000576

118000577

118000578

118000579

118000580

118000581

118000582

118000583

118000584

118000585

118000586

118000587

118000588

118000589

118000590

118000591

118000592

118000593

118000594

118000595

118000596

118000597

118000598

118000599

118000600

118000601

118000602

118000603

118000604

118000605

118000606

118000607

118000608

118000609

118000610

118000611

118000612

118000613

118000614

118000615

118000616

118000617

118000618

118000619

118000620

118000621

118000622

118000623

118000624

118000625

118000626

118000627

118000628

118000629

118000630

128000621

128000622

128000623

128000624

128000625

128000626

128000627

128000628

128000629

128000630

128000631

128000632

128000633

128000634

128000635

128000636

128000637

128000638

128000639

128000640

128000641

128000642

128000643

128000644

128000645

128000646

128000647

128000648

128000649

128000650

128000651

128000652

128000653

128000654

128000655

128000656

128000657

128000658

128000659

128000660

128000661

128000662

128000663

128000664

128000665

128000666

128000667

128000668

128000669

128000670

128000671

128000672

128000673

128000674

128000675

128000676

128000677

128000678

128000679

128000680

128000681

128000682

128000683

128000684

128000685

128000686

128000687

128000688

128000689

128000690

128000691

128000692

128000693

128000694

128000695

138000421

138000422

138000423

138000424

138000425

208000296

208000297

208000298

208000299

208000300

208000301

208000302

208000303

208000304

208000305

208000306

208000307

208000308

208000309

208000310

208000311

208000312

208000313

208000314

208000315

208000316

208000317

208000318

208000319

208000320

208000321

208000322

208000323

208000324

208000325

208000326

208000327

208000328

208000329

208000330

208000331

208000332

208000333

208000334

208000335

208000336

208000337

208000338

208000339

208000340

208000341

208000342

208000343

208000344

208000345

208000346

208000347

208000348

208000349

208000350

208000351

208000352

208000353

208000354

208000355

208000356

208000357

208000358

208000359

208000360

208000361

208000362

208000363

208000364

208000365

208000366

208000367

208000368

208000369

208000370

content-ciaa-1701