Kutim Luncurkan “Cap Jempol” untuk Jemput Bola Anak Putus Sekolah di Wilayah Terpencil

Longtime.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur meluncurkan layanan pendidikan nonformal inovatif, “Cap Jempol”, untuk menjemput anak-anak yang putus sekolah di desa, pondok pesantren, dan wilayah terpencil. Program ini menjadi bagian dari Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) yang menargetkan penurunan signifikan angka ATS di Kutim.
“Cap Jempol” merupakan layanan jemput bola warga belajar yang membawa pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C langsung ke komunitas, sehingga peserta yang tidak bisa melanjutkan sekolah formal tetap bisa memperoleh ijazah resmi yang diakui negara. Program ini dirancang untuk mengatasi hambatan geografis dan sosial yang selama ini menyebabkan tingginya angka anak tidak sekolah.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa program ini memperkuat kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup pendidikan gratis dari PAUD hingga SMA, termasuk penyediaan seragam, buku, dan perlengkapan belajar lainnya. “Dengan Cap Jempol, pemerintah hadir sampai ke pintu rumah warga. Tidak ada alasan lagi bagi anak-anak untuk tidak bersekolah,” ujar Bupati.
Peluncuran program ini dihadiri oleh Ketua TP PKK Kutim, Kepala DPPKB, unsur Forkopimda, dan perwakilan OPD terkait, menunjukkan dukungan lintas sektor. Bupati menekankan bahwa keberhasilan SITISEK membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat dan perusahaan, agar anak-anak di daerah pedalaman, pesisir, dan komunitas terpencil tetap mendapatkan pendidikan.
Melalui Cap Jempol, Pemkab Kutim menegaskan komitmennya menciptakan pendidikan yang inklusif, merata, dan berbasis solusi. Program ini diharapkan tidak hanya menurunkan ATS, tetapi juga memperkuat fondasi sumber daya manusia Kutim menuju generasi yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing. (adv/diskominfokutim/lt)



