Jelang Lebaran, Tiga Komoditas Pangan di Bontang Masuk Zona Waspada
BONTANG – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang menempatkan tiga komoditas pangan sebagai prioritas pengawasan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, yakni beras, cabai besar, dan minyak goreng. Ketiga komoditas tersebut memiliki masa ketahanan stok yang relatif pendek sehingga harus dipantau secara intensif.
Berdasarkan Neraca Pangan Mingguan pada minggu ketiga Ramadan per 9 Maret 2026, stok beras di Bontang tercatat sekitar 658 ton dengan kebutuhan masyarakat mencapai 329,1 ton per minggu. Meski masih tercatat surplus sekitar 198,9 ton, ketahanan stok diperkirakan hanya sekitar empat hari.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas cabai besar. Ketersediaan tercatat sekitar 6,16 ton dengan kebutuhan mingguan 4,1 ton. Sehingga ketahanan stoknya diperkirakan hanya sekitar empat hari. Sementara itu, minyak goreng memiliki stok 76 ton dengan kebutuhan mingguan sekitar 40,3 ton. Ketahanan stok komoditas ini diperkirakan hanya sekitar lima hari.
DKP3 juga menyoroti ketergantungan Bontang terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Hal ini terjadi karena kota tersebut bukan merupakan wilayah sentra produksi pangan. Produksi beras lokal misalnya hanya sekitar 122 ton per tahun, jauh di bawah kebutuhan masyarakat yang mencapai sekitar 15.797,4 ton per tahun.
Untuk komoditas cabai besar, produksi lokal tercatat sekitar 43 ton per tahun dari kebutuhan sekitar 197,3 ton. Sedangkan cabai rawit diproduksi sekitar 100 ton per tahun, sementara kebutuhan masyarakat mencapai sekitar 631,4 ton per tahun.
Selain itu, sejumlah komoditas seperti bawang merah, bawang putih, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng bahkan tidak memiliki produksi lokal sehingga seluruh kebutuhan harus dipasok dari luar daerah.
“Koordinasi dengan distributor terus kami lakukan agar pasokan tetap aman dan tidak terjadi kekurangan di pasaran,” ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani, kepada awak media.
(hl/sr)



