Agusriansyah Ridwan: Pemuda Harus Didukung Regulasi dan Anggaran untuk Pembangunan Daerah

Longtime.id – Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan, menegaskan pentingnya dukungan regulatif dan anggaran dalam mendorong partisipasi serta pengembangan kapasitas pemuda dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, peran generasi muda harus difasilitasi secara konkret oleh pemerintah daerah bersama organisasi kepemudaan. Ia menilai pemuda di Kaltim memiliki potensi besar yang perlu diberikan ruang melalui kebijakan yang berpihak dan pembiayaan yang terarah.
“Kita ingin ketersediaan dalam beberapa sisi atau aspek, baik legislasi maupun peraturan. Mereka harus benar-benar dilindungi dalam hal aktivitas, inovasi, dan keterlibatan dalam pembangunan daerah,” jelasnya.
Hal itu disampaikan usai menerima kunjungan Kader Pemimpin Muda Daerah Kaltim (PKPMD/Talenta Muda yang diinisiasi oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim.
Ia menambahkan bahwa komunitas pemuda yang telah terbentuk memerlukan dukungan tidak hanya secara regulatif, tetapi juga dalam bentuk pembiayaan konkret. Dengan begitu, pemuda dapat mengeksplorasi potensi dan mengembangkan minat di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga pertanian.
“Apakah mereka ingin menjadi petani milenial atau bergerak di bidang lain, itu harus didukung. Termasuk lewat pembiayaan yang terarah,” ucapnya.
Agusriansyah juga menyerukan adanya langkah serius dari instansi terkait, termasuk KNPI dan organisasi kepemudaan lainnya, dalam menyusun strategi perlindungan dan pengembangan pemuda yang sistematis.
Salah satu yang ia usulkan adalah pembangunan basis data akurat mengenai jumlah dan potensi pemuda di tiap kabupaten/kota di Kaltim.
“Bagusnya, database itu mencakup komunitas pemuda dan potensi wilayah. Sehingga kita bisa mendistribusikan program pengembangan yang sesuai dengan karakteristik daerah dan mendorong partisipasi pemuda di sana,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia pun memperingatkan bahwa tanpa tindakan nyata, Kalimantan Timur bisa kehilangan peluang emas dari bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada 2030.
“Saya khawatir, kalau ini tidak dilakukan, kita justru gagal menyediakan pemuda-pemuda siap pakai untuk menyongsong Indonesia Emas. Angka produktivitas 68-69 persen di 2030 itu bukan hanya soal statistik, tapi harus diisi oleh anak-anak muda kita sendiri,” tambahnya.
Terakhir Agusriansyah mengingatkan pentingnya pemuda memahami sejarah peran generasi sebelumnya.
Sebagai penutup, Agusriansyah mengingatkan pentingnya generasi muda memahami sejarah perjuangan generasi sebelumnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan mampu membangun masa depan secara berkelanjutan.
“Karena pembelajaran sejarah itu penting agar pemuda saat ini tidak terjebak pada siklus kesalahan yang sama dan mampu memaksimalkan potensi mereka secara progresif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Adv/Sb/DPRDKaltim)



